Simply da Flores
Saat bersimpuh di pelataran waktu
suara kedua telapakku berbisik lirih
“Kami telah digendong selaksa tangan
Kami selalu dipangku para pendahulu
Tangan kasih suka duka
Pangkuan makna fakta kehidupan”
Aku heran dan termangu
aku diam dalam hening sukma jiwaku
Aku coba merenung
lalu kembali bertanya sendiri
Apa makna suara telapakku
Apa artinya untaian kata itu
Dan
kembali kakiku lirih berkata
“Di atas tanah ini terkubur
jutaan dan berlaksa jasad
Semua para generasi pendahulu
Mereka telah kembali menjadi debu tanah
Agar
bisa memberi tempat bagi generasi penerus
Bumi ini adalah pusara cinta abadi
bagi jasad seluruh generasi”
Aku tersenyum malu
Mengingat kepongahan nalarku dan rasaku
yang sering meremehkan debu tanah
yang biasa lupa pada sejarah
yang belum paham hakikat adaku
yang jarang peduli pada lingkunganku
“Siapakah aku ini
Dari mana saya datang
Ke mana saya akan pulang
Ternyata hukum kodrati
Aku datang dari debu tanah
Aku hidup pada debu tanah
Aku pulang ke debu tanah”
Aku mulai belajar berterima kasih
pada orangtua dan sesama
pada para leluhur dan penjasa
pada alam dan jagat raya
Dan
kutulis dengan telunjukku di tanah
“Terima kasih seluruh pendahuluku
Terpujilah debu tanah fakta cinta sempurna”
Lalu
kutunduk sujud mencium bumi
dengan sepenggal kalimat sahajaku
“Ya, Sang Pencipta
ajarku untuk selalu bersyukur
atas bukti cinta-Mu dalam debu tanah
dan tercipta dariย debuย tanah”
…

