Simply da Flores
…
Laskar demokrasi mengembara berlari
Dari kampung ke kampung
Dari desa menuju kota metropolitan
Dari dusun udik ke kawasan pabrik
Dari gubuk reyot ke gedung megah
Dari kebun ladang ke cafe restoran
Dari ruang ber-AC ke jalanan berdebu
Digelandang mantra “kedaulatan rakyat”
dari rakyat
oleh rakyat
untuk rakyat
Demokrasi Pancasila bagi bangsa dan NKRI
Bukan demokrasi liberal sperti di negara barat
Bukan juga demokrasi terpimpin
Demokrasi lahirkan kelas-kelas rakyat
Kelas rakyat yang tetap lara menderita
karena dijajah oleh janji dan seragam
karena dibeli murah harkat dan haknya
karena dapat uang receh dan sembako
Kelas rakyat yang mengurus parpol
yang ada di ranting cabang daerah
yang ada di tingkat propinsi
yang ada di tingkat Nasional
semua dengan peran dan kapasitasnya
Entah hanya menjadi pelengkap administrasi
Entah akan menjadi politisi kawakan
Entah menjadi pembuat kebijakan
Ada kelas politisi dan pejabat
yang terlahir dari besutan parpol
yang mendapat takhta dan kekuasaan
yang berperan membuat kebijakan publik di berbagai tingkatan
Lalu menggiring gerak langkah rakyat jelata
karena merebut kedaulatan rakyat
Res-Publica itu hebat
Katanya kepentingan keselamatan rakyat
Katanya hak kesejahteraan rakyat
Katanya menjamin kebutuhan publik
Namun
kata republik itu seribu makna
tergantung siapa yang menyebutkan
terkait kepada siapa disematkan
terkait di mana ditulis dan diucapkan
Tergantung konteks dan kepentingan yang dilabelkan Res-publica
Semua rakyat bangsa Indonesia
dirangkul dengan label republik
dalam wadah NKRI tercinta
Sejak diproklamasikan para pendiri
dengan segala atribut dan cita-cita
Pembangunan Nasional demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia
Hukum Negara demi keadilan seluruh rakyat Indonesia
Para pejabat Negara dan seluruh ASN mengabdi dan melayani seluruh rakyat
Semua kebijakan negara demi menjamin hak seluruh rakyat
NKRI menuju Indonesia emas
dengan nafas korupsi dan darah manipulasi
“Apakah ini republik tipu-tipu?”
Demokrasi berkelana terluka parah
mengembara keliling tanah air Indonesia
Res-publica berwajah kumal gelandangan
dibaluri janji manis dan penuh dusta
Demokrasi dan Res-Publica bertemu
di trotoar dan emperan gedung megah
tak mampu berbicara Karena mulut terikat
kaki tangan kesakitan dirantai kemiskinan
Pakaian compang camping penuh debu
Wajah kuyu pucat kekurangan gizi
Mereka menjadi topik utama di ruang rapat
Mereka diagungkan dalam pembicaraan
Mereka dihitung dalam anggaran
Mereka dipidatokan sebagai subyek dan pemilik kedaulatan NKRI
Warna -warni nasib demokrasi dan Res-Publica
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

