Simply da Flores
…
Ada banyak kisah menjadi pengemis
yang mengembara beratap langit
yang berkelana berteman debu tanah
yang bersahabat angin dan cuaca
yang bernafas dalam lara nestapa
yang berbusana terik dan dingin
yang hidupnya dari remah belas kasihan
yang menyantap cibiran caci maki
yang meneguk ejekan dan hinaan
Karena menadah tangan meminta
karena mengarahkan wajah memohon
Karena tak ada lain yang mampu dilakukan
Ada yang terlahir dari orangtua pengemis
hidupnya seperti takdir jadi peminta
Pengetahuannya sangat terbatas
Ketrampilannya juga apa adanya
Relasinya hanya sesama pengemis
Apakah kebetulan, nasib atau kutukan?
Ada yang terpaksa menjadi pengemis
karena dalam kesederhanaan nasib
tertimpa musibah hilang harta benda
dan berkelana dalam lara derita
dan tak dapatkan jalan ke luar masalah
karena tidak punya semuanya
Apakah ini pun nasib dan takdir?
Berbeda lagi yang dibuat menganggur
karena terkena kebijakan perusahaan
lalu tak bisa mendapat pekerjaan
hilang tempat tinggal dan tak berdaya
Akhirnya menjelma menjadi gelandangan
sambil berjuang menjadi pemulung
atau menjadi kuli dadakan di proyek
dan terpaksa menjadi pengemis dadakan
karena makan minum tak bisa ditunda
Mencari pekerjaan baru banyak halangan
tak punya ijazah dan relasi
terbatas ketrampilan dan umur lanjut
Sedangkan anak masih kecil
sehingga terpaksa mengemis dan gelandangan
Inilah tulah nasib dan takdir garis tangan?
Zaman berubah dan keadaan memaksa
Meskipun ingin mandiri dan bekerja
namun peluang dan relasi terbatas
Kondisi zaman berbeda kebutuhan
sehingga tak berdaya untuk bersaing
Mau membuat usaha mandiri juga sulit
soal ketrampilan dan modal usaha
Juga soal persaingan dan kesempatan
Akhirnya menganggur dan jadi pengemis
menadah tangan kepada sesama
memohon belas kasih sehari-hari
Demi membela nafas diri dan keluarga
alami aneka penolakan dan cemoohan
Apakah ini juga nasib dan takdir hidup?
Fakta kehidupan seperti tak adil
bagi yang alami menjadi pengemis
dalam berbagai kisah dan latar belakang
Namun,
kehidupan dihargai dan dibela
Nafas dan desir darah ingin dipertahankan sehingga jarang terdengar bunuh diri
pada pengemis dan gelandangan
Dan
patut dicatat dan diketahui
Pengemis dalam hakikat pengalamannya
adalah jiwa satria hakiki pribadinya
“Karena telah mengalahkan harkat martabat
Sudah menghilangkan rasa malu dan gengsi
Hanya belajar memaknai nafas hidup
bahwa ketika meminta menadahkan tangan
bisa diberi atau bisa ditolak
bahwa saat wajahnya mengangkat mohon
bisa dikasihani atau diusir dicaci maki”
Ada yang menjadikan pengemis profesi
dengan sadar memilih sebagai pekerjaan
mendandani sosok diri dan gayanya trampil meminta dan memohon
Mempelajari tempat dan waktunya
mengenal orang dan lingkungannya
agar bisa mengumpulkan banyak hal
uang receh dan berbagai materi
Lalu membeli tempat dan membangun rumah
Mampu menghidupi keluarganya
dan membiayai sekolah anak-anak
Bisa membuat tempat usaha,
dan membeli sawah ladang
mempekerjakan orang pada usahanya
Sedangkan dia tetap berprofesi pengemis
dengan penghasilan jutaan perbulannya
Apakah ini takdir dan nasib hidup?
Apakah ini kreativitas dan inovasi?
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

