Simply da Flores
…
Sejarah peradaban mencatat beragam fakta ritual
ada aneka sesaji dan hewan kurban
dalam setiap tradisi adat budaya
dalam aliran kepercayaan dan agama
dengan masing-masing konteks pengalaman
dengan alasan dan tujuan khusus ritual
Maka
lahirlah tata cara kurban ritual
dengan sesajen pendampingnya
dengan tata doa dan mantranya
dengan tempat pelaksanaannya
dengan pemimpin ritual dan pesertanya
Sehingga para pelaksana meraih makna dan berkah bagi jiwa raga
Ada binatang pilihan sebagai kurban ritual
Ayam, itik dan burung dara
Babi, kambing, sapi dan kerbau
juga jenis hewan khusus lainnya
Bahkan
ada yang korbankan gadis dan perjaka
karena alasan sakral
yang menjadi dasar keyakinan pelakunya
dan diwariskan sebagai tradisi suci
Untuk menjamin kedamaian insani
dalam relasi istimewa penuh misteri
demi harmoni dengan alam semesta
demi harmoni dengan para arwah
demi harmoni dengan sesama
demi harmoni dengan
Sang Pencipta
Pada aliran darah kurban ritual
sesal tobat atas salah khilaf dosa dilepaskan
agar menebus noda hitam masa lalu
dan membuka jalan baru masa depan
Pada daging kurban ritual
dibagikan doa permohonan restu
serta ucapan terima kasih dan syukur
Pada aroma wangi kurban yang dibakar
membubung keyakinan ke pelataran Ilahi
menyebar asap kerinduan damai harmoni
Ada keyakinan relasi dengan alam sakral
yang pasti memiliki kerahiman ampun dan keluasan maaf
bagi yang menyesal dan bertobat atas salah dosa
bagi yang tulus berterima kasih dan sujud bersyukur
Ketika kurban ritual itu seorang gadis perawan pilihan Pencipta semesta
Terdengar doa pasrah membubung ke angkasa dan bergema ke delapan penjuru
“Kurbankanlah diriku di tengah kebun kehidupan
Biarlah darahku di siram ke delapan penjuru
agar menjelma menjadi minuman dahaga insani
Cincanglah seluruh bagian tubuhku
lalu taburkan ke seluruh ladang alam
agar ditumbuhkan aneka makanan bagi lapar tubuh manusia”
Dan masih terjaga tempat ritual itu hingga kini
tetapi tidak banyak orang yang tahu
serta peduli pada makna sakralnya
Meskipun
setiap hari pasti makan minum
karena menjadi kebutuhan kodrati manusia
Ketika kurban ritual itu seorang pemuda perjaka
Dirinya memberi amanat kasih
kepada para sahabat dan muridnya
dalam sebuah kurban sakral perpisahan
“Inilah tubuh-Ku,
Ambil dan makanlah untuk menyelamatkan jiwa ragamu dan menjamin kehidupan kekal
Inilah darah-Ku,
Ambil dan minumlah
Inilah darah perjanjian baru dan kekal, yang menghapus dosa dunia dan membebaskan jiwa ragamu
Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”
Dan Perjamuan Sakral Perpisahan dengan kurban diri pemuda perjaka itu
Terus dikenang, dipercaya dan dilakukan para pengikut-Nya hingga saat ini
Meskipun
banyak pribadi yang mempersoalkan
bahkan menghujat dan terus berusaha memusnahkannya
Dalam setiap kurban ritual
manusia bisa saling bersandiwara
untuk aneka kepentingan setiap zaman
Tetapi
mata para penghuni alam sakral
bisa melihat pikiran hati dan jiwa pribadi
Apalagi Sang Pencipta Maha Melihat
yang hadir dalam desah nafas dan desir darah setiap pribadi manusia
Aneka kurban ritual hasil peliharaan
bisa dibeli dan menjadi andalan membayar salah khilaf noda dosa
Ada juga bertambah kepentingan untuk gengsi bisnis dan politik
Tetapi…
tentang kurban ritual dua sosok manusia
Sang Gadis Perawan sahaja
Sang Pemuda Perjaka sederhana
memang menagih tanggapan totalitas setiap pribadi
“Darah daging kurban Sang Gadis Perawan
yang setiap hari menjamin kebutuhan tubuh raga insani
tidak dapat dibeli dan dimanipulasi
dengan kesombongan diri kita yang menikmati
Darah daging kurban Sang Pemuda Perjaka
untuk menghapus dosa manusia
untuk menjamin keselamatan abadi jiwa raga insani
Tak bisa dibayar dengan uang dan harta
dengan kuasa dan takhta
apalagi dengan senjata dan iri dengki
Darah kurban bentangkan kanvas merah
Setiap pribadi mau goreskan warna diri
Lahirkan pelangi hati nurani
lukiskan warna-warni sanubari jiwa
Di hadapan sesama dan alam semesta
Di mata penghuni alam sakral
Di hadapan Sang Maha Melihat
Apa sosok wajah makna kurbannya
Daging kurban menjelma jadi cermin
setiap orang melihat diri pribadi
dan tahu perasaan serta pikirannya
Lalu terpaksa mengakui sosok diri
“Siapakah aku ini
Apa yang sudah aku lakukan
Bagaimana cara hidupku kemarin
Ke mana langkahku esok nanti
Jujurkah kurban ritual pribadiku
…

