Simply da Flores
…
Ketika bulan Juni hujan lebat
ada tanya dan lara melanda
di hamparan gersang sanubari
yang biasa musim kering panjang
mulai akhir Februari hingga awal Desember
“Ada apa ya, bulan Juni koq hujan lebat
Apakah alam sedang sedih menderita
Ataukah ini perubahan musim global
Dan petani ladang harus belajar
menyesuaikan saat menanam benih
karena musim pancaroba”
Para nelayan pun terpaksa ke laut meski hujan
Ada yang tenggelam dan hilang
diterjang ombak gelombang samudra
Ketika bulan Juni hujan lebat
ada aneka berita duka lara
Satu keluarga tertimbun longsor
saat tidur lelap malam hari
Wilayah kami sudah belasan meninggal
karena tertimbun longsor, terbawa banjir dan tertimpa kayu tumbang
Banyak pemukiman terendam banjir
baik di desa maupun kota
Banyak jalan terputus karena longsor dan banjir
rentetannya banyak kisah lara derita
Ketika bulan Juni hujan lebat
Di kota metropolitan punya kisah ceritanya
para buruh pabrik dan pekerja tetap masuk sesuai aturan jam kerjanya
Kendaraan tetap hilir mudik melayani penumpang
Yang biasa di jalanan mencari rezeki harus menyesuaikan diri
Ada yang tawarkan jasa sewa payung
Sedangkan yang punya mobil nyaman
Banyak pemukiman terendam banjir
got dan sungai dibanjiri sampah
Pepohonan segar asap polusi berkurang
Kisah cerita lara derita terus bersambung
Ketika bulan Juni hujan lebat
Para buruh proyek bangunan bersedih
karena ada tantangan alam menghadang
Para pekerja di perkebunan sawit
mencatat cerita lirih nestapa
tak berdaya hadapi kenyataan alam
ada banjir, lumpur dan kesulitan bekerja
Di Ibukota Nusantara ada cerita berbeda
tentang konflik pembebasan lahan
tentang pembangunan yang banyak polemik
dan harapan perayaan kemerdekaan 2024
dengan rencana yang sudah diagendakan
Hujan lebat bulan Juni
mengajarkan banyak hikmah untuk refleksi
Bahwa alam punya cara sendiri bersabda
Bahwa kehebatan manusia tak selalu mampu kuasai hukum alam semesta
karena manusia hanya bagian dari semesta dan tergantung mutlak pada alam ini
Bahwa Sang Pemilik alam semesta selalu mengingatkan kesadaran manusia untuk bijaksana dan tahu bersyukur
dalam mengelola alam lingkungan
Seorang pemulung mengail sampah di pintu air metropolitan
dengan tersenyum dia berujar
“Hujan bulan Juni membawa rezeki
berikan aneka sampah untuk dipanen”

