Simply da Flores
…
Dua roda memutar nasib jiwa ragaku
kudayung nafas berkali-kali
menawarkan minuman bagi dahaga
agar aku kenyangkan rasa lapar
dan lebihnya bagi rezeki keluarga
Roda nasib terus kuputar bersemangat
Di antara gedung megah menjulang
diterpa gemerlap cahaya modernitas
Senyum para pejabat dan konglomerat
berbinar padamkan terik dan halau gelap
Kami di kota yang sama tapi berbeda peran dan nasib
tetapi sama desah nafas dan desir darah
Sudah lebih lima tahun kudayung sepeda nasib
Jalanan utama kota kugilas dengan nafasku
kupahat dengan tetes keringatku
aneka potret suka duka kugoreskan
hitam putih dan warna-warni terpatri
Roda waktu terus berlari abadi
yang lestari hanya energi perubahan
sedangkan generasi silih berganti
penghuni kota datang dan pergi
generasi terus lahir bersemi
Semuanya ikut memahat wajah kota jadi begini
dan nanti terus berubah lagi
semuanya ada dan terus menjadi
Di wajah kota Metropolitan ini
semua sosok pribadi digoreng nasib
ada dalam satu wadah perjuangan
padahal berbeda latar dan kemampuan
padahal berlainan asal dan ketrampilan
Tetapi
Kebutuhan menggiring langkah nafas
untuk mengemis dalam perubahan
pada ruang dan waktu yang terbatas
dengan cara dan kemampuan sederhana
meraih rezeki dalam malam gulita
Seperti saya dan kawan-kawan
kami pasukan bersepeda penjual minuman malam hari
Bisa lewati jalanan, lorong dan gang
Bisa jumpai berbagai macam sosok wajah
Bisa temui jutaan model pribadi
Kami dapat kelebihan seribu dua ribu perak
mereka nikmati aneka minuman sederhana
Entah kopi panas bermacam merek
Entah teh atau susu dan jahe
Entah minuman dicampur es
Entah hanya air mineral gelas kecil
Berbeda dengan mereka yang kaya raya
di gedung megah ruangan dingin
atau restoran mahal kafe dan hotel berbintang
Kring kring kring lonceng sepedaku
Aku masih ada maka roda berputar
Aku terus menjadi dalam aneka jualan minumanku
Gulita malam terus semangat kupahat
…

