Simply da Flores
…
1.
Para Bijak Rohani
Ayat-ayat doa mengalun syahdu
menenun waktu menyulam nafas
Aneka ritual sesaji sembah
menganyam tangga ke nirwana
menjumpai berkah Sang Maha Pencipta
Desah nafas disyukuri bersemi
dalam sujud berserah diri
bukan hanya bagi diri sendiri
tetapi bagi sesama insani
agar selalu di jalan surgawi
selama berkelana di bumi ini
2.
Di Ladang dan Samudra
Sawah ladang diolah derai keringat
benih ditabur dirawat dijaga
musim silih berganti bersemi
Di bawah pohon rindang harapan
tetesan doa menyirami debu tanah
Di pondok bambu sahaja
mantra damba menanti panenan
Di bawah terik menikam jiwa
tangan ringkih menjinakkan gelombang
mengemis rezeki pada samudra
karena tidak pernah menanam
Dalam gulita malam kelam
memetik bintang menjadi umpan
meraih purnama menjadi sampan
kepasrahan menjadi kail dan jala
Agar mengayung susu bagi keluarga
yang menanti di pondok angin
3.
Dalam Deru dan Debu Waktu
Seribu tangan mencakar angin
agar berhenti berhembus
Sejuta jemari menjaring waktu
untuk menulis warna damba
Perjuangan dalam deru debu
para pekerja yang dipasung kewajiban
agar bisa dapatkan haknya
Meskipun sering hanya remah-remah
dari meja para tuan konglomerat
Tak kenal siang dan malam
langkah kaki harus berlari
karena kebutuhan memacu pasti
Jemari tangan terus bergerak
karena desah nafas memburu
karena jiwa raga ditagih waktu
Sering harus bergulat sendirian
karena tak punya tahta dan harta
Saudara dan sahabat datang berduyun
ketika kaya dan punya jabatan
Ketika tak ada pekerjaan dan gaji
karena aneka alasan yang terjadi
Kaki terbakar bara api
Tangan luka berdarah nyeri
Jiwa raga dirasakan mati
Kehidupan menjadi tak berarti
Desah nafas menjadi tak pasti
dalam roda waktu berlari
“Hidup enggan, mati tak mau
Nasib merana dalam galau
beterbangan bersama deru debu”
4.
Berkelana Menadah Sedekah
Terlahir cacat dan lara menderita
tak pernah ada yang meminta
Fakta miskin gelandangan merana
tak ada yang memohon terjadi
Hidup terlunta bersama angin
mengembara terlantar ditemani deru debu
Meletakkan raga di mana saja
ketika tak berdaya melangkah
Mengais rezeki di antara sampah
harapkan tetes embun basahi dahaga
Berkelana menadah remah rezeki
ditemani lalat, semut dan tikus
penuh daki dan bau tengik
melintasi kampung dan kota
Sering menertawakan langkah waktu
Biasa membelai wajah angkasa
Selalu memeluk debu tanah
karena takdir jadi fakta dan misteri
Sedangkan sesama saudara menghindar
karena jijik dan tak membanggakan
5.
Para Pemilik Segalanya
Ada yang kaya mempunyai harta
membeli ruang dan waktu
Ada yang punya tahta jabatan
menciptakan aturan dan kekuasaan
Mereka bersahabat mengelola semuanya
jutaan orang yang sederhana
luasnya potensi alam lingkungan
Dan
tercipta piramida sosial peradaban
dengan ragam kisah cerita
Waktu punya sajak dan alkitab
namun sering dipenjara penguasa
Alam punya hukum dan kekuatan
namun sering ditundukkan ilmu teknologi
Para penguasa segalanya segelintir
namun mampu kendalikan dunia
dan bisa tundukkan jutaan manusia
dengan kata-kata dan angka
Bahkan Sang Maha Kuasa pun diatur
karena para penguasa menjadi Tuhannya
…

