Simply da Flores
…
1.
Lesehan Di Kampung Udik
Satu orang bermain gitar
bunyikan melodi alang-alang
nyanyikan syair balai bambu
Ikuti irama angin pondok sahaja
Mengundang hadir sanak saudara
kumpulkan para sahabat kenalan
Rayakan waktu di hari libur
mengantar senja dari tengah kampung
menyambut malam disinari bintang
Bukan gemerlap lampu disko remang
Ketika makanan lokal dinikmati
garam cabe bawang dan kemangi
menari di dalam wadah tempurung
Singkong pisang dan jagung goreng
semakin asyik hentak bergoyang
dipandu nikmat alkohol tradisional
Ceria gembira menghalau kelam lara
perjumpaan melerai kusut problema
Tak ada pembagian kelas miskin kaya
semua dilebur dalam keakraban sahaja
Kita sesama saudara manusia
2.
Di Angkringan Pinggir Jalan
Kopi hitam pahit tersenyum
Aneka jajanan sederhana menyapa
Kepulan asap rokok memanggil
berpadu dalam cerita jenaka
berbaur dalam kisah sederhana
Pertemuan sosok kelana pengembara
Perjumpaan wajah pemburu makna
melakukan ritual kesahajaan realitas
dalam kebebasan tanpa kelas sosial
Angkringan bukan ruang gengsi
karena kelimpahan harta dan uang
Angkringan bukan tempat kongko politik
Angkringan bukan istana koruptor
Angkringan bukan meja konglomerat
Tetapi di sini…
Pohon rindang udara sejuk mempertemukan mimpi dan realita
Tempat para pejuang meruwat energi
Pondok para satria ritual martabatnya
Persahabatan tembakau dan solidaritas
Pertemanan kopi pahit dan kejujuran
Keakraban jajanan lokal dan kesetiaan
3.
Di Cafe Sudut Kota
Para generasi tua dan muda
pergi datang di sudut kota
lepaskan penat di gelas kopi
hilangkan letih di botol minuman
kenyangkan perut pada menu cepat saji
hapus dahaga meneguk dinginnya es
terbangkan galau dengan asap rokok
Agar kembali berpacu mengejar waktu
yang diputar roda kehidupan modern
Di sudut kota ini
sering berderet wajah kesepian
di tengah ramainya orang-orang lain
digiring aneka warna problema
Di arena cafe sudut kota
orang berpapasan tanpa tegur sapa
karena terasing dan beda kepentingan
Hitam pekat kopi jadi sahabat
Asap tembakau jadi teman curhat
Minuman beralkohol jadi solusi masalah
Lalu…
masing-masing pulang meniti jalannya
setelah membayar tempat dan waktu
untuk rehat menyapa nafas dan jantung
4.
Di Pub dan Diskotik
Dentuman musik keras bergema
memacu jantung melerai pikiran
Gemerlap lampu membius mata rasa
agar galau problema lari pergi
Deru debu roda waktu realita
didamaikan dalam ruang penuh pelangi
Perjumpaan dipandu angka dan kata
hiburan harus dibayar pengunjung papa
Agar dapat puaskan selera diri
dalam minuman alkohol dan musik
Ritual membebaskan diri dari galau
Perjumpaan aneka individu merdeka
datang merayakan rindu dambanya
mengalahkan suara hati nurani
memasung kata sanubari jiwa
Mengarahkan seluruh pikiran dan raganya
untuk puaskan rasa dan selera
Musik menjadi pemuas dahaga
Alkohol menjadi santapan lapar
dalam kilau gemerlap pesona lampu disko
5.
Di Layar Gadget Milik Pribadi
Zaman semakin canggih berinovasi
teknologi informasi digital berkreasi
melayani aneka kebutuhan pribadi
Gadget dan komputer di tangan
dimainkan jemari yang lincah
untuk berkelana ke mana saja
untuk menjumpai siapa saja
untuk mendapatkan apa saja
Sesuai kebutuhan yang diinginkan
asal bisa membayar sistem data
Di dalam kamar pribadi dan sepi
orang bisa tertawa sendiri
orang bisa bertemu aneka sosok pribadi
orang mampu memuaskan hasrat diri
Kartun dan boneka jadi sahabat karib
Pribadi imajiner menjadi kekasih
Tempat khayalan jadi rumah idaman
Dan…
pribadi menjadi terasing dengan dirinya
Jauh dari keluarga dan sesama
direnggut data teknologi digital
Semua tergantung kecerdasan akal
…

