Simply da Flores
…
1.
Langkah Subuh dan Pagi
Sudah terbiasa di irama metropolitan
Lagu perjuangan nasib siang malam
menggema dalam aneka wajah
Gulita kelam dihalau gemerlap lampu kota
Panas terik siang pun diterjang target
Waktu adalah kerja dan uang
Senja dan malam hingga subuh
Orang berpacu mengejar kesempatan
Beragam cara harus dilakukan
merebut angka dan kata
untuk bisa membeli kebutuhan
karena barang dan jasa
dihargai dengan angka uang
Bahkan sering diwarnai kekerasan
dan juga pertarungan fisik
agar pulang pagi membawa rezeki
2.
Deru, Debu dan Asap
Fajar pagi disambut deru kendaraan
penghuni kota menerjang debu dan asap
Wajah metropolitan menggoreng perjumpaan
dalam aneka profesi dan tugas
dalam beragam suku asal usul
dengan adat budaya yang kaya
Entah menjadi pesona indah pelangi
Entah nepotisme kolusi korupsi
Entah dibakar emosi iri dengki
Tergantung pilihan keputusan pribadi
Hari-hari di metropolitan
diwarnai banjir arus informasi
Pertarungan realita damba dan mimpi
derap energi kepentingan pribadi
Pesona iklan dan janji-janji
membius mencakar selera rasa
Pikiran berkelahi memilah dan memilih
Dan
sering hati nurani terhimpit debu
biasa jiwa sanubari lara terpasung
deru debu asap butakan mata
Yang kuat menang
Yang lemah kalah tak berdaya
3.
Derap Roda Nasib
Energi pribadi gerakkan roda nasib
di antara deru, debu dan asap polusi
Langkah kaki berpacu berlari
mengejar irama roda waktu
Sepanjang hari siang malam
sekuat desah nafas
sederas desir darah
sedasyat gelombang arus selera
sekeras besi baja wadas zaman
Telapak kaki mengukir jejak mimpi
Jemari tangan menganyam lembar hidup
Keharusan jawab pada kodrat tanya
Kemestian memenuhi kebutuhan diri
Keniscayaan menulis kehidupan
dalam setiap pilihan keputusan
Entah dengan siapa atau sendiri
Entah demi apa dan di mana
Entah harus bagaimana caranya
Entah mengapa dan sampai kapan
4.
Seribu Pelangi Malam
Gemerlap kehidupan metropolitan
mengusir gelap gulita malam
terhimpit di lorong sepi
terbuang di got penuh sampah
bau tengik bersama tikus dan kecoa
menyusui laskar nyamuk nakal
yang siap menyedot darah korbannya
para gelandangan pengemis pemulung
Orang-orang terlantar pengangguran
di emperan, pinggir kali dan tempat kumuh
berkelahi dengan tanya dan lara
mencakar gulita dan cahaya dengan kuku
Mengais nasib di serpihan deru debu
Lenggak lenggok Metropolitan
Ciptakan seribu pelangi malam
di jalanan ibukota dan gedung modern
di kantor-kantor pemerintah dan swasta
di tempat hiburan malam
di gadget, televisi dan komputer
Lalu,
orang berlomba mengejar pelangi
dengan jemari dipandu angka dan kata
tinggalkan jejak kaki ke alam mimpi
terkulai tak sadarkan diri
ketika datang fajar pagi
membawa cahaya menerangi pribadi
…

