Simply da Flores
…
Kecanggihan ilmu dan teknologi
kreasi pikiran canggih manusia
Tidak tuntas menyibak misteri jagat raya
tidak purna kuasai seluruh isi semesta
tidak mampu menghapus takdir kodrati
“Manusia tercipta dari debu tanah
Manusia hidup dari alam semesta
Manusia mati kembali ke tanah
Manusia mutlak tergantung pada alam”
Hujan badai datang melanda
mungkin pertanda tangisan angkasa
Ombak gelombang pasang mengamuk
mungkin isyarat kekesalan samudra
Topan tornado berontak mengamuk
mungkin bersihkan aneka sampah zaman
Gempa berguncang hancurkan bangunan
mungkin bumi terbebani bisu luka dosa
Gunung muntahkan api lahar debu
mungkin alam sedang sakit parah
Banjir longsor merenggut nyawa dan harta
mungkin kini meluap radang luka nista
Sarana teknologi bisa menduga bencana
tetapi tak mampu manusia mengaturnya
Bencana datang silih berganti melanda
Lalu
lahirlah beragam sikap pernyataan
Ada yang menggugat Sang Pencipta
Ada yang diam pasrah menerima
Ada yang saling mempersalahkan
Ada yang sujud mohon ampun
Ada yang mengutuk jagat semesta
Ada yang menyebut seleksi alam
Dan
fakta keagungan semesta bersemi
dalam derap roda waktu
mencatat kata dan laku manusia
Ketika bencana alam melanda
apalagi datang saat manusia lelap
dan menelan korban harta jiwa
Maka korban yang selamat menulis
ayat-ayat hati sanubari
pada telapak tangan dan jejak kakinya
Maka yang jauh dari bencana melukis
sosok warna-warni diri pribadi
pada wajahnya dan halaman sosial media
Maka berbagai pihak berwenang kuasa
membuat keputusan sesuai jabatannya
Maka tokoh agama dan kepercayaan
lakukan ritual daraskan doa
sesuai gerakan sanubari jiwanya
Maka para pakar ilmu dan teknologi
membuat tanggapan kajian sesuai ahlinya
Dan
setiap pribadi memutuskan pilihannya
Bencana alam menjadi seribu wajah
Bencana alam dapatkan sejuta makna
…

