Simply da Flores
…
Sering berkelahi dengan waktu
mengejar mimpi tak kesampaian
gagal meraih angan dan harapan
Ternyata karena telapak melayang
jauh dari fakta debu tanah
Karena
dibawa terbang selera rasa
melukis mimpi di telapak tanganku
Karena sering terbius mataku
oleh silau gemerlap fatamorgana
yang disebar aneka media
dalam cahaya penuh pesona
Aku membangun rumah di awan
agar telapak tak dilumuri lumpur
agar jemari tak dikotori tanah
agar raga tak disirami debu
agar terhindar dari problema
Dan
bisa memetik bintang-bintang
serta selalu memeluk purnama
Aku bangun rumah di awan
bersembunyi di balik awan hitam
agar tidak terlihat mata sesama
agar jauh dari fakta duka lara
agar bisa puaskan dahaga rasa
agar dapat kenyangkan kepicikan isi nalarku
Dan
berselancar di samudra maya
cukup dengan sentuhan jemari
pada layar media digital
sebagai anak gaul milenial
Aku menjadi penghuni awan
Sering diterbangkan angin kehampaan
berteman ayat-ayat mimpi
lupakan hakikat kodrat pribadi
Padahal sedang pijakkan kaki di bumi
dengan semua potensi diri pribadi
dan kebutuhan nyata sehari-hari
Juga fakta suka duka insani
untuk dihadapi dan dihidupi
Membangun rumah di awan
sering menjadi gugatan pribadi
dan sebuah fakta anomali
Ketika aku lupa diri
tentang kenyataan yang terjadi
Bahwa
Aku sungguh pribadi manusia
yang tak bisa berlari dari fakta
yang tak bisa sembunyi dari realita
yang masih menapaki debu tanah
Di antara sesama manusia
dengan cerita suka duka
Bukan hanya selera rasa dan raga
…

