Saat Natal dirayakan
kupikir engkau terlahir kembali
untuk menulis sajak Tahun Baru 2024
dengan ayat-ayat kembang api
dengan terompet kata menggema
dengan jajanan lokal dan secangkir kopi
di antara keluarga dan sahabat kenalan
Ternyata…
Engkau masih lemah diam terbaring
di palungan seribu bisu
dalam gua sejuta galau
Doa keluarga dan semua yang mencintaimu
masih terbang bersama angin rindu
Engkau berpuasa panjang
mata air dan sungai kata mengering
Jemarimu terkulai ditinggalkan pena dan kertas
Bumi gersang dan langit merana
mencari dengan tanya ke mana-mana
dari Yerusalem ke Golgota
dari Yogyakarta ke samudra kidul
dari berbagai lokasi nongkrong ke tempat tidur
Engkau terkapar hening bermeditasi
daraskan mantra Tri Hari Suci
Melewat sepi lorong kematian
dan kami dambakan engkau bangkit
membawa sabda semesta kemenangan
Dalam ayat bait tulisan
dengan energi dasyat Alleluia
Tetapi…
jalan salibmu belum selesai
engkau masih terentang
antara tanya dan jawaban
antara sakit dan sehat
antara fakta dan harapan
antara rapuh raga dan misteri jiwa
antara kehidupan dan kematian
Langit masih mendung bisu
abaikan permohonan doa yang membatu
Mungkin…
Sang Sabda sedang menuliskan
kata-kata untuk buku puisimu
Hari ini masih senyap
ragamu semakin lemah tak berdaya
kami berdoa dalam tanya
“Di mana sang penjelajah itu berada
mengapa tak ada buah panenan sajak
yang merangkul Natal dan Paskah
Mengapa tak ada obat mujarab
dari Sang Raja Pemilik salib
Ataukah
tubuh terkapar diam tak berdaya
adalah ayat-ayat puisi semesta
untuk dibaca setiap pribadi manusia?
“Ya, Sang Sastrawan Kesembuhan
Cukup bisikan satu kata saja
maka jiwa raga Jokpin pulih
agar nikmati kopi sambil berpuisi”
…
Simply da Flores
Jakarta, 25-04-24

