Simply da Flores
…
1.
Dahaga dan Lapar
Selalu ada dalam sanubari
ramahnya hamparan pasir pantai
Ombak tak pernah lelah menari
puaskan dahaga nurani
kenyangkan lapar sanubari
Kekasih, saudari, Ibu
di manakah buih ombak itu
masih adakah nyanyian rindumu
Iringi ayat syair kelana bisu
Hadirmu selalu kutunggu
2.
Hujan dan Lumpur
Bocah-bocah telanjang
bermain gembira riang
diguyur hujan deras kasih sayang
dipeluk dan disuapi lumpur dan kenyang
Anak-anak lugu Tabula rasa
tak diracuni larangan dan kecemasan
Lumpur kotori dan cacing bersahabat
Hujan deras segar mengayomi
Mereka guru alam harkat martabat
Ajarkan hakikat jati diri dan etiket
3.
Telaga Hening Sunyi
Lewati kembara padang gersang
kutemukan telaga di bibir rimba
Diam, hening, sunyi
menanti setiap pencari damai
Dan
aku sudah sampai di sini
mengemis segelas air dan sepiring nasi
Pada bening wajah telaga
aku berkaca melihat angkasa
aku cari jawaban rindu damba
melihat pelangi di bola mata
Mengemis jawaban meraih makna
kenyangkan lapar puaskan dahaga
4.
Sang Pencinta Wayang
Turun dari alam kayangan
Seorang tua berambut putih
menggenggam pasir pantai ganti belati
Lalu
melempari wajah samudra ketamakan
menikam tirai hitam kemunafikan
Dia mengagumi sosok Ontoseno
Tak peduli ombak arus cemoohan
Tak takut dibenci dan dibunuh
Lantang suaranya terus menggema
agar kebenaran tidak dimanipulasi
kemaslahatan hak rakyat ditegakkan
Seperti Nabi Musa membelah Laut Merah
hanya dengan tongkat imannya
5.
Kereta Kencana Penguasa
Anjing terus menggonggong
mengusir bayangan dalam gulita
Kelelawar berpesta pora panen
menuai tanpa lelah merawat tanaman
Tahta, harta dan kenikmatan diri
jadi lakon sandiwara kehidupan
Tajam roda kereta penguasa
menggilas nasib para miskin papa
pemilik hak dan harkat martabat
Nyawa dan darah sesama
seharga sampah dan daun kering
senilai debu jalanan dan arang hitam
Gemerlap kenikmatan butakan mata
Bulan dan mentari sedang gerhana
alam semesta sedang duka lara
menanti kembalinya sinar cahaya
Kereta kencana Sang Ratu Adil
…

