Simply da Flores
1.
Rindu Tertusuk Ilalang
Kaki tertikam duri
berlari mengejar mimpi
Lewati hutan belantara sunyi
menghitung jejak rumput kering bersamadhi
menunggu bertemu cinta sejati
Ilalang taburkan hasrat bersemi
pada bukit-bukit imajinasi
Jika hujan turun nanti
akarnya pasti tumbuhkan seribu mimpi
dan bisa menikam nurani
menusuk wajah jiwa sanubari
2..
Pasir Membelai Samudra
Pagi
engkau datang mencium kakiku
Siang
engkau datang bersimpuh di lututku
Senja
engkau kembali tebarkan senyum
Malam
engkau hadir rebah di pangkuanku
“Jawablah sejujurnya
Seluas apakah rindu dan dambamu
Sedalam apakah kasih sayangmu
Mengapa engkau tak lelah dan pergi
Kutunggu jawabmu saat purnama”
3.
Pucuk-pucuk Cemara
Dengan kuku tajam jemarinya
Cemara mencakar wajah angin
Rindu siang dan malam
menanti diam sepi
di padang dan lembah sunyi
di bukit dan gunung mimpi
Angin berkelana tanpa janji
pergi dan datang tak pasti
Lewati lembaran musim bersemi
Rindu rasa damba sanubari
bertengger di pucuk-pucuk cemara
4.
Sungai Jernih Kasmaran
Tetesan air memeluk jiwa
ciptakan kolam rindu kodrati
pada bebatuan dan akar pepohonan
berkelana jauh puaskan dahaga samudra
Angin sepoi jatuh cinta
pada dedaunan kering gugur
dari pucuk mimpi yang hijau
menulis bunga dan buah
pada telapak dan bola mata
Sungai mengalir tak pernah berhenti
5.
Panorama Jagat
Pada puncak gunung itu
rindu damba aku tambatkan pasrah
Dan
kuyakini engkau jadi puncak kelana
Namun…
ketika engkau adalah samudra
aku tak mampu menyelami istanamu
Jika engkau awan kebebasan
aku tak bisa menahan langkahmu
karena aku tak punya sayap nafas
Antara dasar laut dan puncak gunung
ada senyum dan tanya
Antara awan selera angkasa
dan hening diam pegunungan
ada kelana mimpi bersemi
Benarkah ada kasih dalam sanubari
Hanya angin yang bisa menyibak misteri
nurani sanubari insani
ketika masih ada cinta sejati
untuk merenda harmoni dua pribadi
dalam derap roda waktu berlari

