Simply da Flores
…
Ikut merenungkan dan merayakan Hari Kamis Putih, saya menulis sepotong sajak. Sebuah ungkapan iman dalam menggapai makna Agape, Perayaan Perjamuan Akhir Yesus, yang mengajarkan Kasih Yang Paling Agung.
Kamis Putih – Agape
Berulang kali kudengar
kisah Malam Perjamuan Akhir
Sang Raja membagikan pribadi-Nya
Darah-Nya ditulis dalam anggur
Tubuh-Nya diukir dalam roti
lalu dibagikan kepada murid-Nya
Sambil memberikan pesan ajaib
yang penuh haru juga membingungkan
“Ambilah dan makanlah
inilah tubuh-Ku
demi keselamatan abadi
Ambilah dan minumlah
inilah darah-Ku
darah perjanjian baru dan kekal”
Terdengar aneh dan mengundang tanya
nampaknya roti dan anggur
Tetapi disebut tubuh darah-Nya
Jika tak diterima dan disantap
akan menjadi penolakan persaudaraan
Maka, terpaksa diterima dengan tanya
Sang Raja juga ajarkan contoh
Meraih mahkota dan keagungan pangkat
dengan cara yang tidak lazim
“Tunduk mencium debu telapak kaki
Bersedia membasuh kotor jemari sesama
mereka yang kecil sahaja
Karena melayani sebagai hamba
adalah keagungan hakikat kebesaran
harkat martabat sejati manusia”
Membingungkan dan merobek nalar
Pangkat jabatan yang dicari
seperti layaknya para raja dan penguasa
agar dihormati dan kaya raya
“Mengapa harus menjadi hamba
Untuk apa membasuh kaki sesama”
Pedang tajam membela jiwa raga
yang baru disadari makna
setelah peristiwa salib Golgota
dan kidung halleluia kebangkitan bergema
“Sekarang sudah lewat 2000 tahun
Aku belum layak ikut perjamuan
Duduk semeja denganmu Sang Raja
lalu makan dan minum bersama-Mu
Apalagi dibasuh telapak kakiku
Maka,
Cukuplah remah roti yang terjatuh
Cukuplah tetes anggur yang tersisa
dan
boleh ada di perjamuan itu
mengalami mujizat agape
Memberikan tubuh darah-Mu
demi cinta bagi kami semua
Syukur dan terima kasih Yesus
atas keagungan cinta kasih-Mu”
…

