Simply da Flores
…
Para penyair kagum termangu
saksikan purnama sedang galau
Setelah lelah letih berkelana
berjalan kumpulkan sejuta warna
mengembara menenun kanvas
dan bersamadhi temukan ayat syair
Dan
malam ini purnama menulis sajak
Sambil menari memakai topeng
berganti sosok setiap ayat
“Sajak pesta kemenangan pelangi atas mentari”
Bintang-bintang menepi dan sirna
Langit pun bisu tanpa suara
pasukan kelelawar sigap berjaga
agar tak ada demo awan mega
atau laskar para serangga
yang menggugat alam semesta
tentang keanehan perilaku purnama
dalam dinamika normal jagat raya
Para penyair membaca sajak purnama
dengan suara terbata-bata
dengan mata berkaca-kaca
Entah mengapa dan ada apa
karena tak kedengaran suaranya
tetapi gemanya membahana semesta
dalam alunan nada rahasia langka
Bahkan belum pernah ada
purnama merah menulis sajaknya
dan para penyair membacakannya
Sekarang…
nyata ada dan terjadi
malam ini penuh misteri
“Aku purnama kumpulkan api
amarah iri dengki dari bumi
Kubakar langit kutantang mentari
agar berhenti sinari bumi
agar entah dari semesta ini
Aku purnama merah
sudah kusobek wajah Surya
sudah kucakar hancurkan mentari
biar bumi bebas berkreasi
ciptakan cahaya tanpa tertandingi
Dan
jagat semesta ini merdeka
Bebas miliki cahaya dan gulita
Aku purnama merah
harus menjadi penyelamat semesta
Bukan cahaya Sang Surya
yang terus menjadi penguasa”
Purnama merah tinggalkan angkasa
melangkah perlahan membelai samudra
Lalu
datang memeluk para penyair
yang sedang takjub penuh keheranan
dan nanar menatap wajah purnama
Ayat-ayat sajak purnama merah
meleleh dan menjelma jadi darah
Bait-bait syair purnama merah
berubah jadi batu dan pepohonan
Wajah dan sosok purnama merah
sekonyong sirna dibawa angin sepoi
Para penyair diam dan pergi
malam menjadi senyap penuh misteri
antara ilusi, mimpi dan puisi
…

