Simply da Flores
…
1.
Hujan di Gedung DPR – MPR
Kumpulan para penerima mandat
suara hak kedaulatan rakyat
Senyum tertawa terbahak-bahak
di ruang dingin limpah kewenangan
Rayakan kemenangan membeli suara
dari rakyat sahaja penuh percaya
yang bermimpi mendapat pelangi
Hujan rintik di tanah gersang
Kebun ladang merintih kekeringan
Hujan deras di gedung mentereng
jatuh ke selokan dan mengalir
bersama jerit suara lara merana
“Anjing menggonggong kafilah berlalu”
Suara rakyat terbawa angin dan hujan deras
Wakil rakyat sibuk melukis pelangi
di atas kanvas kepentingan politik
Loyal kepada parpol pemberi kesempatan
Air mata, hujan, dan angin berpelukan
di selokan menuju samudra galau
mengais demokrasi di pasir pantai
2.
Hitam Putih Panorama Fakta
Bangunan modern mencakar langit
menjepit rumah kumuh kaum miskin
Kemewahan mencekik sosok keadilan
Sisakan serpihan puing debu nasib
menari dalam senandung air mata
Warna-warni wajah metropolitan
Ada yang tertawa terbahak
dalam ruangan mewah tapi hampa jiwa
Ada yang bercanda ceria
dalam lara derita di emperan
saling berbagi dalam kekurangan
ciptakan senyum seribu pelangi
Hitam putih fakta kehidupan
Pelangi fakta makna peradaban
Panorama wajah jiwa raga
antara emperan kumuh dan gedung pencakar langit
Rahasia jarak bumi dan matahari
3.
Sampah dan Pemukiman Kumuh
Sampah itu tarian metropolitan
dipentaskan di ruangan, jalanan dan di mana-mana
Sampah itu nyanyian modernisasi
menggema mengalun menjadi-jadi
Sampah itu…
ciptakan lukisan warna-warni
lahirkan fakta pesona pelangi
Iringi roda peradaban insani
Pemukiman kumuh juga sampah
kreasi kelas kaya dan berkuasa
yang ciptakan desa dan kota metropolitan
dengan angka dan kata bergerigi
Sampah itu
Tak peduli yang lara menderita
apalagi yang protes berdemo menggugat
Uang dan senjata bisa mencegat
Hidup ini adalah peperangan abadi
antara keputusan dan kepentingan
digilas energi roda waktu
Ada, terjadi dan terus misteri
4.
Parade Laskar Gepeng Metropolitan
Gelandangan, pengemis, pengangguran
dilahirkan modernisme dan metropolitan
lalu terbuang seperti anak haram
Tetapi…
tak bisa dimusnahkan dan diingkari
oleh kilau gemerlap kreasi inovasi
pilihan angka dan kata misteri
Parade gelandangan pengemis dan pengangguran
Membawa pelangi hiasi metropolitan
deklarasikan hakikat makna keputusan
Cerita pada angin debu jalanan
Entah didengarkan atau tidak
Mereka penopang gedung pencakar langit
bersama batu fondasi terjepit
di kedalaman gulita rahasia
Mereka akar misteri pelangi
Hanya semesta tahu jawabannya
di balik tabir rahasia alam raya
…

