Simply da Flores
…
Ada kabar dari kampungku
beberapa bulan terakhir terjadi
anak-anak muda mati tak wajar
dengan cara menggantung diri
Ada juga bayi dibuang orangtuanya
mati terkapar ditemukan warga
Terasa tragis dan penuh tanya
apa sebabnya dan mengapa begitu
Entah masalah ekonomi melilit
Entah kasus relasi dengan sahabat
Entah persoalan dengan orangtua
Entah dikorbankan pihak tertentu
Namun,
selalu kabur dan penuh misteri
“Mereka sungguh manusia
nyawanya sekarang gentayangan”
Nasib bayi-bayi dipaksa hilang
ada yang satu dua bulan umurnya
ada yang sudah hampir lahir
ada yang dipaksa lahir digugurkan
Terjadi diam-diam di mana-mana
dengan aneka alasan dan cara
Mungkin dianggap sampah kehidupan
atau memang tidak diinginkan
Mungkin karena hubungan gelap
dan dirasakan sebagai aib
Mungkin karena penolakan tradisi budaya
Mungkin orangtua belum siap terima
lantaran umur terlalu muda
Mungkin sekadar rekreasi dan percobaan
Mungkin kemajuan zaman dan bisnis
Dan
nyatanya aborsi terus terjadi
para bayi sudah menjadi korban
“Mereka sungguh manusia
nyawanya sekarang gentayangan”
Ada juga kasus kecelakaan kendaraan
banyak dijumpai sedang mabuk
umumnya korban generasi muda
Yang lain korban pembunuhan sadis
juga ada aneka alasan misteri
bahkan ada yang dimutilasi
Ada korban jambret dan kekerasan sosial
oleh kelompok yang brutal sadis
juga dipicu aneka alasan misterius
Ada yang ditemukan jenazahnya
di hutan rimba dan selokan
di kawasan pabrik dan pemukiman kumuh
di sungai dan pantai sepi
di area tambang dan perkebunan
Lalu,
banyak menjadi bungkam hilang
Tetapi…
jasadnya fakta tragedi mati tak wajar
jiwanya mengembara gentayangan
Atas kasus kematian tragis misteri
Alam semesta mencatat pasti
Sang Maha Melihat mengetahui
Dan
para arwah gentayangan berpesan
“Jasad kami telah mati misteri
Para pelaku mungkin sudah damai
atau merahasiakan rapi pandai
Dan ada yang menyesali diri pribadi.
Tetapi
Jiwa kami hidup mengembara
menanti sampai tiba masanya
dijemput sang Ajal menghadap Pencipta
Karena
kembali ke dunia tak ada raga
menghadap Pencipta belum saatnya
Maka,…
kami terus menagih padamu pelaku
mengapa kami harus begini
mengapa kami mesti mati
demi 1001 alasanmu
Kami juga sungguh manusia
bukan sampah bagi hidupmu
Tanamanmu pasti tumbuh berbuah
entah dirimu yang panen
entah nanti anak cucumu kemudian”
…

