Simply da Flores
…
Gadis kecil itu selalu hadir di pasir pantai
setiap hari melukis jejak di wajah pasir
lalu seketika dihapus telapak ombak
Dan mereka bercanda bersahabat
lewati terik siang dan gulita malam
tanpa kata dan suara
namun dalam diam bercerita
“Gadis kecil, ombak gelombang dan hamparan pasir pantai”
Sudah berhari-hari kuamati
Relasi tiga sosok jagat
Gadis belia, pasir pantai, dan ombak gelombang
Ribuan jejak telapak dilukiskan gadis belia itu
Desah nafasnya memburu angin
Desir darahnya mengaliri daratan pulau benua
Tanya hasratnya merobek langit angkasa
“Gadis belia itu tumbuh dewasa dalam diam
Namun sejuta kisah dicatat pasir pantai
dan disimpan ombak gelombang
Hanya sahabatnya angin yang bisa membacanya”
Hari ini kucoba bertanya
dengan harapan mendapat jawaban
dari gadis yang diam sahaja
“Siapakah namamu
dan orangtuamu
Darimana makan dan minummu
Di mana tinggalmu dan asalmu ada
Mengapa setiap hari ada di sini
Dan
masih banyak tanya lainnya”
Dengan wajah tenang sahaja
dan tatapan mata tajam menikam
Ia memberi jawaban dalam gerak tangan isyarat
Ia menunjuk ke hamparan samudra raya
Ia menatap langit dan menunjuk matahari
Ia bentangkan telapak dan arahkan pandangan ke dataran, lembah dan gunung
Ia meniup dan kibaskan tangan ke segala arah
Lalu
Ia menulis di atas pasir
dengan aneka goresan telunjuk
dan sekejab disapu ombak yang memecah ke wajah pasir pantai
Tetapi
gadis itu terus menulis dengan senyuman
Dari isyarat dan tulisan jemarinya
Coba kuduga jawaban nuraninya dan catat makna sanubarinya
“Aku tidak punya nama
Aku bisu tak punya kata-kata
Aku hanya punya bahasa alam
Aku tak tahu orangtuaku siapa
Mungkin ibuku samudra raya
Mungkin bapakku terik mentari
Saudaraku ombak gelombang
dan saudariku pasir pantai
Sahabatku angin dan awan
Aku putri samudra dan mentari
Hidupku dan rumahku di hamparan pasir pantai ini”
Dan
sambil tersenyum ramah
gadis itu berdiri dan memegang telapak tanganku
lalu bertanya dalam isyarat
“Engkau siapa, dan mengapa engkau mengamati aku, lalu sekarang bertanya padaku”
…

