Simply da Flores
Beberapa hari ini aku di dusun
kembali jumpai sanak saudara
dengar dan rasakan cerita pilu
Alam dilanda panas kekeringan
Kebun ladang merana kerontang
aneka tanaman kerdil dan mati
lalu terpaksa dibabat dibenamkan
Panenan sirna rezeki hampa
ketika musim pancaroba melanda
Entah nasib keluarga seperti apa
harga sembako di pasar melonjak
tak ada uang untuk bisa membeli
Dan
pagi subuh ini hujan mengguyur
“Apakah ini air mata lara petani
Apakah ini duka derita masyarakat
Adakah jawaban alam semesta
Ataukah ini semacam teguran Sang Pencipta
atas segala salah khilaf dan dosa
atas kesombongan lupa terima kasih
atas sirnanya kesadaran bersyukur?”
Kabar dari sosial media
ada daerah lain kelebihan hujan
maka banjir longsor pun melanda
bahkan menelan korban harta jiwa
Nasib petani pun lara merana
sawah terendam banjir lumpur
panenan pasti gagal didapatkan
nasib keluarga pilu menderita
Karena harapan rezeki sirna
dan tak mampu membeli kebutuhan
Para buruh kebingungan pekerjaan
karena ada yang tidak dibayar
ada yang dihentikan pekerjaannya
ada yang nganggur tak bekerja lagi
Nasib keluarga dicengkeram masalah
“Katanya suasana politik penyebabnya
Katanya keadaan ekonomi pancaroba
dan masih banyak katanya”
Sedangkan …
Ada yang legah di kota
karena hujan melerai polusi dan sampah
alam lingkungan kembali segar
Meskipun siang malam berjibaku
dengan tuntutan kerja modern
Entah menjadi buruh di pabrik
Entah menawarkan jasa tenaga
Entah jadi pegawai kantoran
Entah usaha bisnis dan jasa lain
“Berbeda kehidupan kampung dan kota
Masyarakat tradisi dengan modern
Perjuangan meraih rezeki kehidupan”
Subuh diguyur hujan lebat
di ujung malam menjelang pagi
kenyataan alam penuh misteri
dalam fakta musim pancaroba
Pesan alam kembali digoreskan
Bahwa
manusia tergantung pada alam ini
Musim dan hukum alam terjadi
ada yang menjawabi ulah manusia
ada yang murni hukum semesta
ada yang memang tetap misteri
Sedangkan…
menghadapi fakta ada sikap berbeda
Ada yang terima dan bersyukur
Ada yang mengkaji dan menganalisa
Ada yang marah dan berontak
Ada yang diam dan masa bodoh
Ada yang berpasrah pada nasib
Menyepi di pondok bambu sederhana
ditemani segelas kopi pahit
kutanya pada hitam pekat kopiku
Mengapa alam tak lagi ramah
Mengapa ada pancaroba musim
Mengapa banyak bencana alam
Apakah Sang Ilahi tak dengarkan doa
dari mereka yang lara menderita
Bagaimana menghadapi kenyataan demikian?
Dan
kopi pahit ku berbisik lirih
“Hitam pekat dan pahit ku
yang selalu dinikmati banyak orang
Artinya bukan dosa dan kejahatan
bagi mereka yang tak bersahabat denganku
Fakta hujan, banjir dan longsor
juga musim pancaroba dan bencana
Adalah ungkapan pengalaman manusia
dan fakta kehidupan yang terjadi
Tetapi …
apakah itu kejahatan dan dosa
adakah itu hukuman Pencipta
Semua kembali pada cara memaknai
dari keputusan setiap pribadi”
Subuh diguyur hujan lebat
perlahan berlalu bersama waktu
Terang pagi mulai samar bergeliat
tak ada iringan nyanyian burung
tak ada kokok ayam bersahutan
belum terlihat cahaya mentari
Aku simak makna wejangan kopiku
Air hujan membanjiri selokan
bersihkan debu sampah di pikiran
segarkan jiwa sanubari yang layu
membelai hati nurani yang lara
menghibur resah derita rasa
“Aku harus temukan jawaban pribadiku”
Lalu aku seruput hitam kopiku
dalam diam hening dan tertegun
Karena banyak tanyaku dihentaknya
karena banyak gugatanku disingkap
Agar aku sadari hakikat pribadi
di antara sesama saudara manusia
di tengah misteri alam raya
di hadapan Sang Pemilik Semesta
“Masihkah ada terima kasihku
Adakah kesadaran syukurku tiap hari
Atas segala anugerah kehidupan
Pernahkah aku syukuri nafasku”

