Simply da Flores
Memikirkan jumlah kata mulutku
bisa seribu bahkan beribu-ribu
setiap hari berbicara berkata
dari mulutku yang satu ini
Entah apa yang biasa kukatakan
Entah apa yang dibicarakan
Entah apa maknanya kata-kataku
hanya diam saat tertidur
Dan
sering sekali tak kupedulikan
Apakah kataku disebarkan orang
Siapa sesamaku saat bicara
Apakah dia mendengarkan atau tidak
Apakah ada manfaat atau tidak
kata-kataku mengalir bagai angin
Sehingga
aku pun jarang mendengarkan
Apa yang dikatakan orang lain
“Satu mulut jutaan kata-kata”
Aku punya dua telinga
sama seperti sesama saudara lain
Telinga untuk bisa mendengar
Tetapi…
Sering tidak digunakan telinga
untuk mendengarkan perkataan sesama
untuk mengetahui maksud orang lain
untuk memahami isi pembicaraan
Bahkan
perkataan sesama seperti angin berlalu
Pembicaraan orang lain diabaikan
Apalagi suara alam lingkungan
“Dua telingaku sering tak berfungsi
Tidak mudah peduli mendengarkan
Tidak gampang untuk diam
sehingga bisa mendengarkan sesama”
Hari-hari ini
dalam alam digital milenial
dengan sarana canggih teknologi
Lebih mudah berkomunikasi virtual
berjumpa sesama sesuai kesenangan
Ketika ada informasi di sosmed
dengan aneka gaya pernak pernik
Apalagi sesuai hobi dan selera
Saya bisa habiskan berjam-jam
untuk melihat dan mendengar
untuk menonton berbagai informasi
untuk diam dan mendengarkan
Bahkan
ketika habis pulsa dan baterai
segera aku usahakan untuk membeli
agar selera pribadi terpenuhi
agar kesenangan diri bisa terpuaskan
“Melihat dan mau mendengarkan
Rupanya banyak dipengaruhi selera
dan ditentukan keinginan pribadi
Dan
lebih mudah mencari di sosmed
karena tidak berhubungan langsung
Hubungan dengan sesama makin jauh”
Banjir informasi terus bergelora
Lautan samudra kata diproduksi
aneka gaya dikemas menarik
sehingga mata selera dan pikiran
bisa dikendalikan konten sosial media
demi puaskan setiap diri pribadi
Hubungan manusiawi menjadi data digital
dengan aneka pernak-pernik maya
ada dunia baru kreasi Iptek
Meskipun sedang ada bersama
biarpun sedang hadir satu tempat
Bahkan
dalam acara khusus keluarga
atau di tempat tidur suami isteri
Masing-masing sibuk dengan gadget
karena lebih menarik dan sesuai selera
Maka…
anak-anak pun dibius Iptek
air mata dibayar uang dan gadget
makan minum sambil mata di layar hp
“Relasi antar pribadi berubah
Mendengarkan sesama makin sulit
Berdialog pun semakin jarang
Apalagi saling mendengarkan”
Ketika menyaksikan informasi sosmed
Tentang demonstrasi, petisi dan gugatan
juga deretan jerit lara masyarakat
dengan aneka spanduk dan soundsystem
dengan berbagai tuntutan dan gugatan
Bahkan ada yang bisa anarkis
di gedung-gedung pemerintahan
di jalanan dan lapangan terbuka
apalagi konten di sosial media
Maka…
aku mulai diam berpikir
sampai kapan semua ini terjadi
bagaimana menemukan solusi jurdil
seperti apakah hukum dan aturan
Masihkah ada demokrasi dan keadilan
Jika …
semua lebih pandai berbicara
tetapi jarang mau mendengarkan
Ruang berdialog semakin sirna
karena semua tidak peduli mendengarkan
Apakah semua akan tergantung sosmed?
Relasi manusiawi dan sosial
haruskah dimediasi oleh sosmed
Urusan hukum aturan bernegara
apakah sebatas konten sosial media
Pemilu Luber dan Jurdil
hanya sandiwara melalui sarana digital?
Dan
ke mana arah NKRI tercinta ini
Apakah menjadi Republik Sosmed Indonesia
Bagaimana nasib hak angket DPR
akankan cuma kongko-kongko politisi
“Angin perubahan terus berhembus
Kecanggihan Iptek digital berkuasa
Pencari keadilan terus menjerit
Sandiwara politik terus berjalan
Dan
Hukum alam pun tetap bergeliat
Entah apa dan bagaimana jadinya
Sangat gampang berkata-kata
Sangat sulit saling mendengarkan
Bahkan telinga ditutup handphone
agar tidak dengarkan orang lain”

