Memoar 40 hari Dr. Ignas Kleden
Simply da Flores
40 hari berlalu dikenang
Lelaki energik hitam legam
dari rahim Kampung Waibalun Flores
telah melewati batas pandang
melintas garis horizon samudra
“Timu matan Lera gere
dari Timur matahari terbit
Warat lali Lera lodo
di Barat sang Surya tenggelam”
Perjalanan ziarah seorang putra Samudra
mengiring cahaya mengurai sinar
dengan pisau tanya di nalar
dengan pedang analisa pikiran
dengan sorot mata musyafir
“Siapakah aku dan sesama-ku
Apa hakikat jatidiri manusia
Mengapa manusia berbudi daya
Mengapa manusia imanen transenden
Apa itu verum, bonum et pulchrum
Mengapa kita bisa menjadi serigala sekaligus sahabat bagi sesama
Apa itu kata dan makna”
Sosok pribadi Ignaz Kleden
terlahir di pelataran Ile Mandiri
menghadap laut pantai Waibalun
dibekali jejak Namang Lewotana
dimantrai senandung lonceng gereja
Diajari bersahabat asinnya laut
berteman Bero dan pancing
bertenaga sayur kelor dan jagung titi
Harus trampil memanah sinar fajar
Harus lincah menganyam gelombang
Harus pandai menenun angin
sebagai bekal ziarah petualangan
meraih bulir panen jawaban
bagi lumbung jiwa raganya
Berbekal lumbung warisan Lewotana
Kampung halaman di Waibalun
Langkah perjalanan terus dipacu
lintasi bukit lembah Flores
mengurai panas bara api alam
Di ladang lembah Hokeng
dan bukit cahaya Ledalero
mengenal desah nafas Komodo
memetik mustika Pulau Naga
Untuk menjelajahi wajah Nusantara
dan pergi ke benua Eropa
Terus bertualang mengasah pikiran
bergelora meraih batas horison samudra realitas
Memetik bulir panen jawaban
bagi lumbung jiwa raganya
Pertanyaan hakiki dicari jawabannya
Jawaban kembali dipertanyakan kritis
Agar fakta dan realitas hidup
bisa diberi makna kaya
bagi kehidupan dan peradaban
“Karena keluhuran eksistensi manusia
dengan hakekat rohani jasmani
dengan akal budi dan nurani
di tengah alam semesta ini”
Meskipun laksana sampan di lautan luas
langkah sosok pribadi Ignas Kleden
tak ada gentar dan keraguan
terus berpacu meraih batas horison samudra
Siang dituntun cahaya mentari
mengkaji realitas peradaban zaman
untuk singkap kebenaran hakiki
lalu dibagikan dalam karya ilmiahnya
Malam ditemani bulan bintang
berkelana menyibak misteri gulita
agar subuh dibawa pulang
bagi rezeki khazanah kebudayaan
dalam catatan esai dan opini
dari sorot mata nurani tajamnya
dengan belati nalar ilmunya
“Panenan bulir bernas karyanya
dipersembahkan untuk tanah air
diabdikan bagi bangsa dan NKRI
dibagikan untuk nilai kemanusiaan”
Sang pemikir berkarya dalam diam sahaja
ditemani keheningan kontemplasi jiwa
menemukan jawaban melerai tanya”
Ketika menulis catatan rindu ini
ada bangga dan terima kasih
atas perjalanan seorang pemikir
yang telah menyelesaikan ziarah
dalam umur hidup 76 tahun
Semoga damai dalam keabadian
“Kata-kata cerita berlalu
Karya tulisan tetap tinggal
dari seorang pelintas batas horison samudra kehidupan
Sang pelaut musyafir pemikir
yang telah memeluk kesempurnaan
Sang Maha Tanya dan Jawaban”
Saat mengenang 40 hari kepulangannya
Ada catatan pinggir menarik
dari sosok sang pemikir sahaja
tentang warna-warni zaman milenial
tentang perkembangan budaya digital
“Di zaman digital milenial ini
semakin jarang ditemui pemikir cerdas
yang diam sahaja berkontemplasi
lalu menganalisa dengan nalar bening
Untuk menemukan jawaban bernas
dari pertanyaan mendasar kehidupan
tentang realitas peradaban manusia
tentang hakikat kebudayaan insan
Demi memberi makna kaya
bagi hidup dan kehidupan
yang luhur berharkat martabat
dalam keutuhan jasmani rohani
anugerah Sang Maha Ilahi”
Ada isyarat pesan suara alam
“Kecanggihan pesona digital milenial
justru mereduksi hakekat manusia
menjadi selera, data dan robot
justru hasilkan hoaks, copas dan galau
“Quo vadis humanum
Homo homini lupus
Kemana arah langkah manusia
Manusia menjadi serigala bagi sesama”
Hidup semakin egois dan apatis
relasi semakin prakmatis transaksional
Kata dan angka semakin berkuasa
segala cara dihalalkan saja
Hukum rimba menjadi acuan purna
dengan kuasa, harta dan senjata”

