Mengenang Romo Mangun
Simply da Flores
Lelaki sahaja berjanggut itu
bercanda dengan kawanan hiu
di tepian kali Code Yogyakarta
Ia mempertemukan burung Manyar
dengan kawanan hiu
Lalu,
anak-anak gelandangan bercengkrama
para pemulung ceria bercerita
para ibunya sibuk memasak dan mencuci
di air Kali Code yang bening
Dari mulutnya memancar ayat semesta
terbang bersama angin damba
diiringi bangga kawanan burung Manyar
melintas tanah air Nusantara
Menyapa anak negeri yang lara derita
Menghapus air mata yang mengucur
Menghibur para ibu yang terluka sengsara
Dan
para sahabatnya kawanan Hiu
pulang dengan terharu bertekad juang
mengarungi luas samudra harapan
Melerai sampah peradaban bangsa
yang tercemar mercuri kerakusan
yang dibanjiri plastik moralitas
yang dibelenggu korupsi pejabat
yang dikotori tailing tambang para investor
bersama air mata dan darah para korbannya
Sang arsitek sastra kemanusiaan itu
mencatat bait-bait kehidupan
menulis rindu damba makna sejati
pada wajah lembaran angin
pada mata dan pikiran para pejabat
pada hati sanubari tokoh agama
pada jiwa-jiwa para pahlawan bangsa
pada generasi muda pewaris NKRI
Dan
pada jiwa raga sesama saudara
Mereka yang miskin lapar gelandangan
Mereka yang dipinggirkan kekuasaan dan selera masyarakat
Mereka yang dihina dan dicap penjahat
Mereka yang jadi korban proyek negara
Mereka yang dijadikan sampah bangsa
Dia datang dan tinggal bersama
Dia hadir tanpa mengadili
Dia berdoa tanpa kata agama
terus membagi senyum dengan cinta sahaja
selalu berbela-rasa dalam pelukan udara kerahiman semesta
Bahwa
“kasih sayang sesama saudara
tidak punya organisasi adat suku budaya dan lembaga agama
Allah Sang Pemilik kehidupan
tidak bisa diklaim, dijadikan budak dan dibatasi kasih sayang-Nya
atas nama siapa pun dan alasan apa pun”
Karena…
Sang Ilahi itu
Maha Pengasih dan Penyayang
Dia Sang Pemilik segalanya
Matahari kasih dan udara cinta
bagi semua tanpa kecuali
“Kasihilah dan hormatilah Allahmu
dengan segenap akal budimu dan jiwa ragamu
Kasihilah dan sayangi sesamamu
seperti anda mengasihi diri sendiri
Setiap pribadi adalah sesama saudara kemanusiaan”
Sang sastrawan kehidupan itu
Romo Mangun yang sahaja itu
Sudah selesai berkelana sebagai saudara
belajar membagi ayat semesta
berziarah menulis kasih sayang sejati
sesama saudara dengan amal bakti
Dia telah kembali ke Ilahi
terus berinkarnasi dan menjadi
menjelajah bersama hiu dan burung Manyar
berkelana dengan para sahabat
dari Kali Code, Waduk Kedung Ombo dan ke seluruh jengkal negeri
terpatri dalam buku goresan jiwanya
agar terus berdialog dengan sesama
“Ucapan akan pergi mengembara
Tetapi tulisan tinggal dan terbaca
Amal kasih sayang terpatri
sebagai taman perjumpaan jiwa dan raga
bagi nalar waras dan hati nurani sahaja
bagi jiwa sanubari taqwa”

