Simply da Flores
Dari arah baris perbukitan
jauh di seberang kampung udik
di tengah malam pekat senyap
Terdengar anjing melolong pilu
dan disahut anjing sekampungku
juga anjing kampung tetangga
Lirih, pilu dan seram…
Ternyata
baru kutahu pagi ini
ada beberapa warga kampung
yang dikuburkan jauh di bukit
Mereka korban saat covid19
dan keluarga pun masih trauma
untuk datang berkunjung berdoa
Karena memang sepi dan sunyi
bahkan ditenggarai tempat angker
“Wabah covid19 meninggalkan ketakutan
Namun sesudahnya diabaikan dilupakan
pesan alam tentang kehidupan”
Hanya anjing para korban covid19
yang masih setia meratapi pemiliknya
Mungkin bentuk doa kerinduan
atas relasi harmoni persahabatan
Di sudut metropolitan Jakarta
ada pemukiman warga perantau
Kulihat berseliweran anjing peliharaan
Dan
saat malam Jumat kemarin
mereka pun ramai melolong
di tengah malam sunyi senyap
Saat ku duduk sendiri berteman sepi
bersahabat lelah menyusuri harapan
Entah mengapa dan ada apa
Entah untuk apa dan siapa
Puluhan anjing melolong menatap langit
Anjing melolong di kampung dan di kota
ekspresi binatang serukan pesan
Apakah ada petisi dan gugatan
Apakah ini rintihan kecemasan
Apakah itu jeritan lara derita
Ataukah semacam demo dan solidaritas
atas nasib manusia pemilik mereka?
Pesan suara alam lingkungan
tidak mudah ditangkap maknanya
Apalagi di tengah zaman milenial ini
Bahkan
Sering dianggap irasional dan takhayul
atau sekadar mencari sensasi
Di tengah perseteruan kepentingan politik
Di saat kesulitan ekonomi sosial
Di waktu galau hadapi masalah kehidupan
Karena galau dan cemas
kucoba tanya pada angin malam
agar dapat jawaban pesan alam
Mengapa anjing melolong di kampung-kampung
dan juga di kota metropolitan?
Menjelang adzan subuh ada berita
Angin berbisik lirih bercerita
“Sudah kutanyakan pada bulan
dan sudah kudengar dari para anjing
Ternyata lolongan itu pesan
tentang kegetiran dan kecemasan alam
tentang lara duka derita insan
tentang ketidakharmonisan relasi kehidupan
tentang perkelahian anak manusia
Anjing menggonggong dan melolong
resah gelisah pada manusia
Yang menggugat hakikat dirinya
demi terpenuhi hawa nafsu pribadi
Yang saling mencaci maki berseteru
paksakan kemauan pribadi dan kelompok
demi kepentingan politik dan gengsi
Yang abaikan hukum agama, adat budaya dan hukum negara
demi selera kuasa dan harta
Yang brutal merusak alam dan membunuh sesama saudara
karena kesombongan diri dan mutlakkan kebenaran pribadi
Bahkan merasa dirinya Tuhan”
Adzan subuh bergema syahdu
angin malam pergi berlalu
Saya berusaha menghalau galau
merangsek tempat tidur bambu
Terdengar kesibukan metropolitan bergemuruh
Anjing-anjing ramai bergonggong
iringi langkah pagi perjuangan
Orang-orang bergegas pergi bekerja
gaung kendaraan semakin bergema
“Anjing-anjing menggonggong
orang berjuang meraih nafkah
Anjing-anjing menggonggong kafilah berlalu
Anjing-anjing menggonggong misteri tanya fakta mengulang
menanti kejujuran harapkan kepastian”

