Simply da Flores
Maklumat Para Burung
Di sudut metropolitan ini
ada panorama menarik bagiku
Seorang pencinta burung-burung
memelihara banyak jenis burung
dengan sangkar yang unik
memenuhi keliling halaman rumahnya
Ada beberapa rajawali dan elang
Ada burung gagak dan burung hantu
Ada burung nuri dan parkit
Ada cucakrowo dan murai
Ada kakatua beberapa warna
Ada burung beo dan cendrawasih
Ada juga belasan perkutut
yang diberi nama-nama wayang
Setiap hari ramai bunyinya merdu
Ada juga beberapa angsa
dan ayam hutan, bekisar serta ayam jago beberapa warna
Bisa dibilang ini taman mini burung
Sering kuperhatikan dan mengagumkan
Sang pemilik mengenal mereka
dan telaten merawat penuh ceria
Makanan burung, angsa dan ayam selalu tersedia
Banyak orang yang suka datang berkunjung
menyaksikan keindahan burung dan sempat ber-selfi ria
Relasi akrab pemilik dan burungnya
Sebuah hobi dan lebih dari itu
“Hubungan persahabatan antar makhluk”
Pagi ini kejadian luar biasa
Ada orasi para burung itu
mereka pekikkan aneka pernyataan
dan saya coba saksikan dari dekat
Meliput dan merekam aksi para burung
sedangkan pemiliknya sudah pergi bekerja
Nampaknya rumah kosong penghuni
Barisan burung pipit
asyik bercanda
sambil memungut makanan yang terjatuh dari sangkar
Ada juga perkutut bebas dan kumpulan merpati tetangga
yang selalu datang berkunjung
mereka sering bercanda ria dengan para burung yang di sangkar
Entah apa yang dibicarakan
“Aku Rajawali, Aku Elang
kami punya paruh dan cakar tajam
tapi sekarang tak berdaya di sangkar
Kaki terikat, badan dikurung
hidup kami tergantung pemilik
Tak bisa terbang di alam bebas”
“Aku gagak, aku burung hantu
Kami mencium aroma darah manusia
yang terbawa kabar angin
Entah darah korban pembangunan
Entah darah tumbal politik
Atau darah kasus kejahatan…”
“Aku Nuri, Parkit, Murai dan Cucakrowo
Suara kami lantang sehari-hari
tapi hanya dinikmati indahnya
Jarang dipeduli jeritan nasib kami
isinya selalu diabaikan pemilik
Juga mereka yang datang mengagumi
Kami terus dipenjara di sangkar”
“Aku Kakatua, Beo dan Cendrawasih
kami tertangkap dan diperdagangkan
dengan harga mahal dan diselundupkan
Justru oleh yang harus melindungi
Kami dijadikan pajangan gengsi
oleh yang berduit dan jabatan”
“Kami kawanan sahaja perkutut
Ditugaskan menjadi satpam pemilik
Diberi nama tokoh mistik
entah demi apa dan siapa…”
Kami para ayam jago
diikat dan dikandangkan
demi kepuasan hobi pemilik
Dipaksa bersuara indah mempesona
Padahal
kami hanya ikuti takdir alam”
Kami para burung yang disangkar
ditawan dan ada yang terikat
Telah diasingkan dari habitat alam
demi selera dan hobi pemilik
karena bisa membeli dan merawat
Sedangkan
sejatinya kami mau bebas hidup
seperti kawanan burung Pipit
atau merpati yang terbang ceria
Mungkin banyak manusia terpenjara
oleh pemilik uang dan kuasa
nasibnya seperti kami para burung”

