Simply da Flores
…
Pernah kudengar petuah leluhur
yang dikisahkan para sesepuh adat
dan diingatkan oleh para orangtua
Tentang makna kata-kata ucapan
oleh setiap pribadi kita
“Pikirlah sebelum berbicara ucapkan kata
Bicaralah dengan benar dan baik
benar itu sesuai faktanya
baik itu dengan cara yang santun
untuk tujuan yang bermanfaat
Jangan asal bicara ikuti selera dan emosi
Jangan bibir berucap tipu-tipu
Jangan lidah mengatakan kebohongan
Air ludah yang memercik ke tanah
akan ditagih bumi dan langit
jika dijilat kembali pembicaranya
karena berbohong
atau putar balik dari kenyataan sebenarnya
Akan menjilat debu tanah – mati
Bibir dan lidah penipu
akan terpotong pengadilan alam ini
Prinsipnya berbicara harus baik dan benar
harus bijaksana dan berguna”
Setiap pribadi yang waras jujur
biasanya bicara sedikit banyak mendengar
Selalu berjuang berkata benar dan baik
Terus berucap bijaksana demi bermanfaat
sehingga bisa dihargai dan dipercaya
“Manusia dipegang kata-kata ucapannya
Bukan hoaks dan tipu-tipu
dengan memutarbalikkan fakta
Serta menjilat ludah sendiri di tanah
mengkhianati ucapan dan sumpah janjinya”
Sering prinsip dan harapan ideal
tidak terjadi dalam kenyataan hidup
Bahwa ada janji manis palsu
Bahwa ada penipuan dan pengkhianatan
Bahwa omongan sumpah janji bisa diingkari sendiri
Bahwa kata-kata pribadi justru dilanggar dan dibatalkan sendiri
Bahkan dengan menyebut nama Allah
demi meyakinkan orang atas kebohongan ucapannya
“Memang lidah tak bertulang
Namun sejatinya
pikiran dan nurani jiwa
yang sedang sakit dan terbelenggu hawa nafsu serta kebodohan diri sendiri”
Menjilat ludah sendiri di tanah
adalah tindakan berkata bohong dan mengingkari ucapan diri pribadi
dengan keyakinan penuh kelicikan
Padahal sesama sungguh mendengar ucapan dan percaya memegang kata sumpah
Alam lingkungan yang mencatat kata janji sumpah
Para arwah yang menyaksikan pembicaraan
Sang Maha Pencipta yang mengetahui semuanya
Tidak pernah bisa dibohongi pribadi kita
“Inilah fakta keterbatasan pribadi manusia
Bisa salah, khilaf dan berdusta
Entah untuk apa dan siapa”
Maka…
semuanya kembali ke dalam setiap pribadi
yang paling tahu makna kata ucapannya
yang bisa menjamin sumpah janjinya
yang membuat pilihan dan keputusan
Karena
pilihan dan keputusan berbicara
makna setiap kata ucapan
Adalah pilihan diri pribadi masing-masing
dan ada satu tanggung gugat kodrati
Kepada diri pribadi masing-masing
Kepada sesama saudara kita
Kepada para arwah keluarga
Kepada alam lingkungan
Kepada Sang Maha Mengetahui dan Maha Melihat
Fakta menjilat ludah sendiri dari tanah
sekarang semakin semarak terjadi
Entah dalam sumpah jabatan publik
Entah di ruang penegakkan hukum
Entah dalam relasi bisnis
Entah dalam urusan politik
Entah dalam kehidupan beriman dan adat budaya
Entah dalam kebersamaan di keluarga
Entah dalam relasi pasangan kekasih
Entah dalam lembaga dan organisasi sosial
Bahkan
dalam ritual adat budaya serta agama
“Mungkin sudah sirna rasa takut dan hormat
pada Sang Maha Kuasa
Mungkin makin kabur moral dan etika
Mungkin begitu tumpul hukum dan aturan
Ataukah
inilah fakta kemajuan zaman
Kecanggihan Iptek digital milenial
“Manusia menjadi robot dan data”
…

