Simply da Flores
…
Awal Februari 2024
Ku baca di media sosial tentang petisi
Proklamasi sanubari jiwa atas fakta
Deklarasi hati nurani atas kenyataan
Pekik suara amanat penderitaan rakyat
Gugatan nalar pikiran atas masalah
Ungkapan rasa terhadap persoalan bangsa
Aksi jiwa raga rakyat turun ke jalan
“Di mana Pancasila dan merah putih
Untuk siapa undang-undang dan peraturan
Di manakah sumpah jabatan atas nama Allah Tuhan
sesuai masing-masing agamanya
di atas Alkitab yang suci
Dan disaksikan segenap warga bangsa dan dunia”
Petisi itu…
peti jiwa raga yang diusung
untuk para pembuatnya yang berontak
untuk mereka yang menjadi sumber masalah
untuk semua yang sedang bernafas
Petisi itu…
peti yang berisi dan diisi
Peti deretan persoalan bangsa NKRI
peti ketidak-warasan para mafia politik
peti kerakusan kekuasaan pejabat buta
peti duka lara nestapa rakyat
peti aneka tipu daya korupsi
peti janji-janji palsu politisi busuk
peti para penguasa sakit gila
Peti-peti berisi itu
Yang dipamerkan di jalanan metropolitan
Yang dikirim ke seluruh pelosok tanah air NKRI
Yang disebar di sosial media
Yang dipertontonkan kepada dunia dengan bangga
Entah sampai kapan dilakukan
Entah untuk apa dan siapa
Entah mengapa…
*Inikah parade Laskar Orang-orang Mati
Inikah jeritan abadi orang-orang yang dimatikan
Inikah takdir zaman edan”
Berjalan melintasi Ibukota Jakarta
kulihat bertumpuk menjulang peti-peti
entah di gedung tinggi berkaca
entah di kantor-kantor pemerintah
entah di perumahan elit mewah
Terus diproduksi dan disebarkan
memenuhi jalanan Ibukota
menghimpit dan menggilas kaum lemah tertindas
Diangkut dengan aneka kendaraan
dari darat, laut dan udara
lalu disebarkan ke seluruh pelosok sanubari rakyat
agar segera memasukkan jiwa raganya
mengisi peti-peti penindasan
Peti yang berisi itu
Dari para pemilik modal yang tamak
Dari para politisi yang busuk
Dari pada pejabat rakus yang buas
Dari para gangster dan mafia
Dari para tokoh agama yang buta
Dari para cerdik yang dibayar
Dan
Rakyat diajarkan berkelahi dan saling mencaci maki
Bangsa ini dipaksa membunuh diri
di rumah dan kamarnya
“Pemilu Luber dan Jurdil
Hiduplah Indonesia Raya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Merdeka, merdeka, merdeka?”
…
foto Ilustrasi: Istimewa/detik.com

