Simply da Flores
…
Deru mesin kreasi pikiran
membawa ragaku ke pucuk-pucuk awan
melihat satu halaman keajaiban
“Aku hanya setitik debu tanah
pada hitam putih wajah kesadaran
Tentang diriku di tengah alam semesta”
Angin terbangkan jiwa ragaku
menggapai pelataran telapak angkasa
untuk bisa bercermin diri
untuk mampu menatap wajah pribadi
Dan
bisa berdandan menata jejak langkah melukis sosok jiwa raga
Pucuk-pucuk awan tersenyum
melihat aku takut gemetaran
menyadari kerapuhan diriku
Telapak angkasa tertawa sinis
saat aku bersujud mengemis ampun
atas segala kepongahan nafsu
dan semua kesombongan seleraku
Ternyata…
semua kata dan tindakanku
selalu terlihat mata angkasa
tak bisa disembunyikan dari awan dan debu tanah
Aku mulai belajar sadar dan malu
“Di hadapan alam semesta
Aku tidak berdaya apa-apa
Di antara sesama manusia
Aku juga bukan siapa-siapa”
Pada pucuk-pucuk awan
tertulis seribu satu persoalan
Kisah duka lara penderitaan rakyat
Cerita ketidakadilan dan tipu muslihat
Fakta noda dan polusi peradaban
karena masalah diatasi dengan masalah
karena persoalan ditutup dengan persoalan
dengan aneka kata dan angka
Samudra kata-kata di angkasa raya
Sering berubah menjadi awan
yang sering menjelma dalam hujan badai
dan turun menimpa manusia di bumi
Terjadi dari generasi ke generasi
dalam variasi makna arti
Pada telapak jemari angkasa
orang-orang saling mengalahkan
pribadi-pribadi saling memanfaatkan
Dan
ketika kepentingan tidak tercapai
Telunjuk diacungkan saling berkelahi
dalam sumpah serapah dan caci maki
Tetapi
sebaliknya saat selera damba digapai
mereka saling jempol memuji
dan berpelukan cium mesra
Dengan bangga merasa berkuasa
atas sesama dan alam raya
Dengan sombong pamerkan harta
sebagai ukuran harga dirinya
sungguh berbeda dan kaya raya
bisa membeli apa saja
Pucuk-pucuk awan
abadikan rindu damba selera manusia
Meski pun banyak yang yakin bisa bersembunyi dari matahari
dan bisa hidup menyendiri tanpa keterlibatan sesama saudara
Kesombongan selalu hilangkan kebijaksanaan
Ketamakan pasti abaikan nilai harkat martabat
Kerakusan biasa membunuh makna hakiki
Telapak angkasa raya
memotret dan melukis makna
jejak hati nurani dan nalar insani
yang sering lupa hakikat diri
Bahwa
manusia sering membohongi dirinya
dari fakta telapak yang menginjak debu tanah
dan hidungnya yang menghirup udara
“Manusia bukan maha kuasa
dan pemilik alam semesta ini”
…

