Simply da Flores
…
Karena perasaan tidak enak dan segan
banyak orang diam memendam rasa
meski derita duka lara melanda
biarpun haknya diinjak dan direnggut
Walaupun miliknya digusur dan dicaplok
“Diam bukan emas, tetapi virus mematikan
Bungkam bukan berlian,
tetapi menyuburkan ladang kejahatan”
Karena menerima uang dan barang
yang diberikan dengan janji manis
Lalu pikiran dibungkam bisu
mulut tertutup tak bicara
Rasa dirantai dan terpasung
Nurani merana lara menderita
Jiwa sanubari kerdil berlumur dosa
“Hak dan kewajiban hakiki mati
Kebebasan kodrati hilang lenyap
Harkat martabat ludes terbakar api
Semua jadi debu di telapak kerakusan”
Karena miskin, bodoh, takut dan terancam
Banyak warga terdiam di hadapan pejabat negara, lantaran takut senjata atau penjara
Para buruh, tani dan nelayan
bungkam di hadapan pedagang dan penguasa pasar yang mengatur harga
karena terdesak kebutuhan hidup keluarga
Pewaris sumber daya alam merana di tengah kelimpahan miliknya
karena digusur dan dicaplok para pemodal
Fakta terus terjadi…
Warga negara diam dan apatis
sehingga korupsi dan pelanggaran hak beranak pinak berjaya
Anggota komunitas adat budaya tak mampu bicara di hadapan pemimpin suku adat budayanya
Umat pengikut keyakinan dan agama
tunduk bisu di hadapan pejabat organisasi iman
karena takut dosa dan melawan Tuhan
“Diam, bungkam, takut di hadapan kejahatan
sudah berulang dialami yang lemah
Bahkan sudah menjadi kebiasaan serta dianggap kebenaran dan takdir Ilahi”
Hari ini…
Saatnya bangkit berdiri tegak
Berani bicara dan bertanya
di hadapan pemimpin adat budaya
di depan pejabat politik negara
di muka pengurus organisasi agama
“Aku harus melakukan kewajibanku
Atas nama hukum adat budaya
Atas nama hukum aturan negara
Atas nama hukum suci agama
Katakan apa jaminan hak-hak saya
Apa yang pasti akan kuterima setelah kulakukan kewajiban saya?”
Mari bangkit bicara dan bertanya
Jangan diam dan membiarkan penindasan
Jangan bungkam dan melahirkan ketidakadilan
Jangan takut untuk mengatakan kebenaran
karena itu hak dan amanah kodrati
Harkat martabat sejati insani
sebagai makhluk ciptaan Ilahi
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi
Kalau bukan kita, siapa lagi
Katakan benar, jika benar
Katakan salah, jika salah”
…

