Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Saya masih ingat akan sebuah khotbah oleh seorang imam (1971), saat saya masih berstatus murid kelas satu SMP Seminari di Mataloko, Ngada, Flores, NTT.
Demikian, isi khotbah sang imam. Di dalam sebuah keluarga kecil, yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan seorang anak laki-laki, putra mereka satu-satunya.
Dengan tanpa diketahui oleh sang istri pun sang anak, ternyata sang Ayah yang sungguh kreatif ini, diam-diam menancapkan sebatang paku ke sebatang tiang kayu, setiap kali si anak melakukan kesalahan.
Saudara, tiang kayu itu, diletakkan di sebuah kamar terkunci.
Suatu hari, tepat saat si anak merayakan ulang tahunnya yang ke -17, sang Ayah yang kreatif itu mengajak si anak yang sudah menanjak remaja itu ke sebuah kamar.
Setiba di kamar sunyi itu, betapa terperanjat sang remaja, saat menatap sebatang tiang kayu yang ditancapi banyak paku.
“Tatapilah tiang kayu yang membisu ini, anakku,” pinta sang Ayah.
Dalam kebingungan, remaja itu pun mulai berpikir keras, apa makna serta maksud dari peristiwa ini.
Sambil merangkul tubuh jangkung remajanya, dia membisikan sejumlah kata. Sesaat, setelah itu, pecahlah tangisan haru penuh penyesalan dari mulut si remaja.
Saudaraku, mengapa si remaja itu, akhirnya menangis penuh penyesalan? Karena betapa dia terperanjat atas kata-kata Ayahnya. “Anakku, maafkan aku, Ayahmu. Selama 17 tahun ini, setiap saat, setiap hari, minggu, bulan, dan tahun, ayah sungguh memperhatikan tingkah lakumu. Setiap kali, kamu melakukan kesalahan, Ayah menancapkan sebatang paku ke tiang kayu yang membisu ini. Ayahmu melakukan tindakan bersimbol ini, tidak bertujuan mau menghitung, betapa banyaknya kesalahanmu. Tidak! Ayah lakukan ini, demi mengikuti pertumbuhan serta perkembangan jiwa ragamu. Ayah, sangat menyayangimu.”
Lalu, diam-diam si remaja pun mengguman, menghitung paku-paku membisu itu sambil meraba pada setiap batang paku.
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enamโฆ,โ guman si remaja. “Ayah, maafkan aku. Ternyata, betapa banyak kesalahan yang telah aku lakukan kepada Ayah dan Ibu.”
Saudara, ada banyak cara serta jalan, metode pendekatan yang dapat orangtua lakukan dalam konteks mengedukasi anak di dalam keluarga.
Hendaklah orangtua tidak hanya mendikte dan melarang atau, bahkan memarahi serta menghukum si anak. Lakukanlah berbagai cara positif kreatif, bagaimana cara mendidik anak yang baik dan benar.
Katakan dengan berterus terang kepada si buah hati, โNak, betapa sakit hati Ayah, setiap kali kamu melakukan kesalahan. Sesakit saat ditancapi paku, walau Ayah tahu, kamu tidak menyadarinya.โ
“Betapa mulia hati sang Ayah, yang sungguh tulus mengasihi buah hatinya.”
…
Kediri, 14 Mei 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

