“Tetapi, Tuhan semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, … kepada-Mulah kuserahkan perkaraku” (Yer. 11: 20).
Sebagai manusia, kita tidak dapat menutup telinga terhadap kenyataan, bahwa ada orang di sekitar kita yang tidak menyukai, menyakiti hati, menganiaya, atau bahkan menjelek-jelekkan kita. Dalam menghadapi situasi seperti ini, kita dihadapkan pada dua pilihan: membalas perbuatan mereka atau mengampuni mereka dengan menyerahkan segala rasa sakit dan luka itu kepada Tuhan.
Nabi Yeremia mengalami situasi serupa, ketika ia menghadapi ancaman yang dapat menimbulkan penderitaan bagi dirinya di Anatot. Dalam menghadapi ancaman itu, Yeremia memilih untuk menyerahkan seluruh perkaranya kepada Tuhan, melihat penderitaan yang dialaminya sebagai ujian yang menguatkan batin dan hatinya.
Dari pengalaman Nabi Yeremia, kita diajak untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebaliknya, kita dipanggil untuk menyerahkan orang-orang yang menyakiti kita kepada Tuhan, mendoakan mereka, dan membiarkan Tuhan yang bekerja.
Kita juga diajak untuk berdoa agar hati dan batin ini dikuatkan dalam menghadapi realitas kehidupan, sehingga kita makin setia mengikuti kehendak Tuhan.
Fr. Frederick de Jesu, CSE
Sabtu, 21 Maret 2026
Yer 11: 18-20 Mzm 7: 2-3.9-12 Yoh 7: 40-53
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

