| Red-Joss.com | Eksistensi dan romantika hidup lansia di Sanberna berfatwa, bahwa ‘sepuh dan sepah’ itu tak dikait. ‘Sepuh’ pasti, ‘sepah’ itu pilihan.
Fenomena menarik yang terlihat nyata di Sanberna, bahwa akar pohon yang tua tidak dibongkar dan dibuang. Daun-daun kering yang jatuh tidak tersapu jadi sampah.
Menjadi sepuh itu tak bisa dihindari. Karena menjadi sepuh atau tua adalah bagian dari hidup itu sendiri. Maka kita harus ‘s’ (siap) menjalaninya.
Tak terhindari, ketika kita sepuh, kita akan sendiri lagi. Sepi adalah fase hidup yang sering tidak dapat dihindari, seperti halnya ciptaan lain, ayam misalnya. Anak-anak ayam yang sudah besar harus pergi, menjalani hidup mereka. Induknya akan sendiri lagi. Maka memilih tetap ‘s’ (sibuk) dengan hal-hal menyenangkan, seperti bermain musik untuk gereja, akan menjaga pikiran tetap sehat, hati tetap riang.
Dengan begitu, saat sepuh menghampiri, tidak akan membuat kita merasa ‘s’ (sepah), alias dibuang.
Kisah nyata: seorang (ex) siswa SMA, (hampir 40 tahun yang lalu), bercerita, ketika sudah sama-sama menjadi tua alias sepuh. Kami tetap menjadi ‘s’ (sobat) sampai hari ini, dan akan seterusnya sampai hayat berhenti, dengan jalan hidup masing-masing. “Pak, saya sudah berhenti memulung. Makin sepuh dan badan tidak menopang lagi berjalan kian-ke mari. Lebih lagi hujan sudah mengguyur setiap hari,” katanya. “Saya beralih usaha, budi daya lele, memanfaatkan sepetak sempit tanah yang kami punya,” lanjutnya.
Saya senang mendengarnya. Apapun pilihannya, itulah tanda kematangan hidupnya.
Di kelas, ketika kubertanya pada para mahasiswa, “Ketika sebuah pohon tidak lagi berbuah, karena usia dan daun-daunnya kering berguguran dan terhanyut arus air sungai, adakah sesuatu yang masih bisa dikatakan berguna di hari tuanya itu?”
Kata seorang mahasiswi, “Di sekitar rumah kami,” (dia berasal dari desa luar pulau) “pohon tua itu akarnya tidak dibongkar tetapi dirapikan. Banyak orang duduk di sore hari melepas lelah dan berbagi kisah.”
Sepuh memang bisa membuat tidak hangat lagi alias sepi, karena sendiri. Tetapi sepuh itu tidak akan menjadi sepah kalau akarnya tidak dibongkar. Di sana dia masih merasa bermakna ketika masih ada yang duduk dan bersandar, sekadar mendengar kisah-kisah hidup dan pergumulannya.
Salam sehat berlimpah berkat
…
Jlitheng
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

