Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tak ada kabar yang lebih indah dari saya, selain daripada duka derita dan derai air mata.”
(Dari Hati yang Terluka)
Sebuah Deskripsi Fisik
Sepucuk surat bertulis tangan, bertinta merah, tampak lusuh, tergeletak sunyi di atas sebuah meja kusam di balik sehelai daun jendela yang kusam pula. Surat apakah itu? Dari manakah datangnya? Siapa pula pemiliknya?
Dengan tinta yang berwarna merah menyala dan fisik surat yang tampak lusuh, tergeletak di atas meja lusuh, di balik daun jendela yang juga tampak sangat lusuh; sesungguhnya siapakah penulisnya? Apa dan bagaimanakah kondisi fisik mentalnya?
Bukankah kata sang arifin, “jika Anda ingin mengenal katakter seseorang, lihatlah saja pada hasil karyanya?” Karena sebuah hasil karya nyata adalah ekspresi dari jati diri pembuatnya?
Berapa Getir dan Pahitnya Isi Surat itu
Dari sepucuk daun hati yang sunyi sepi, dan dari balik kokohnya jeruji besi nan sunyi, hari ini, aku tuliskan sepucuk surat buat kalian semua.
Surat sunyi ini, aku tulis dari balik jeruji besi nan sunyi! Di antara rasa perih, pedih, sedih, sepi, dan hening … jemariku getar nan lentik …
Wahai Ayah-Bundaku, para Guruku, dan handai taulanku di makam sunyi, serta para pengambil kebijakan jahat yang sibuk bersandiwara di balik biro kotor; izinkan aku tuangkan rasa muak dan kekecewaanku kepadamu!
- Kepada orangtuaku!
Pernahkah aku ini dididik dalam kasih sejati? Ataukah aku hanya bagai anak jalanan yang terkapar sunyi di balai-balai rumahmu? - Kepada para Guruku!
Pernahkan kalian sungguh-sungguh mendidik dan membentuk karakterku? Ataukah kalian hanya bersandiwara, karena ketat dan beratnya komando kurikulum yang semuanya akan dibebankan ke pundak mungilku? - Kepada para Handai Taulanku!
Pernahkah kalian berkata jujur dan tulus kepadaku selama kita asyik bercengkeraman? Ataukah aku justru telah dijangkiti dan diracuni oleh bujuk rayuan muslihatmu? - Juga kepada sang Pengambil Kebijakan!
Serius dan tuluskah diskusi simpang siurmu lewat ayat, pasal, serta bab dari kitab pengadilanmu, hingga berani memutuskan menjerumuskan aku ke balik terali besi sunyi ini?
Aku berkata dengan bersumpah kepadamu!
“Awas, kalian semua, jika kesengsaraan dan deritaku ini, sebagai akibat dari kelalaianmu!”
“Kalian harus berani untuk turut bertanggung jawab secara sosial, moral, dan spiritual atas keterjerembabanku ini.”
“Kalian jangan berkilah dan berdalih demi menyelamatkan diri!”
Ada Asap, maka Ada Api
“Tidak akan ada asap, jika memang tak ada api,” demikian isi pengajaran hidup dari sang Kebenaran. Dalam konteks ini, apakah kesengsaraanku ini, sebagai dampak kelalaianmu semata?
Refleksi
- Untuk hal yang satu ini, aku ikhlas berkorban.
- Semoga lewat kisah kesengsaraanku ini, sanggup membuka mata hati kalian dan dunia, agar rela untuk belajar bertanggung jawab kepada anak serta keturunanmu.
- Bukankah semua dagelan hidup ini akan berakhir tepat pada saatnya?
Belajarlah agar senantiasa bersyukur!
Kediri, 20 November 2025

