| Red-Joss.com | Membayangkan dan mencoba merasakan apa yang ada di hati seorang pemimpin yang sesaat lagi tidak mempunyai kekuasaan lagi. Gundah mungkin, tapi ada beda cara untuk meresponsnya.
Ada yang begini: “Senyum, sapa dan doa seluruh rakyat Indonesia adalah sumber kekuatanku dalam mengabdi.” Bunyi pada poin ke 4 pidato kenegaraan Presiden RI 16.8.24, kemarin.
Seharusnya memang begitu, ya, sumber kekuatan tiap pemimpin adalah rakyat atau umatnya, karena vox populi vox Dei. Semakin sanggup mengenali suara rakyat, makin besar pula baktinya. Sebaliknya makin lemah mengenali suara rakyat , makin kuat bujukan reputasi, yang akhirnya makin rapuh baktinya.
Ada orang tertentu yang memang mempunyai ketangguhan pribadi yang luar biasa, diterpa badai sekuat apa pun tetap kokoh, tidak goyah.
Menghadapi masalah berat baginya adalah ujian besar bagi kepemimpinannya. Tapi bagi pemimpin yang sumber kekuatannya adalah rakyat atau umat, tidak akan goyah, ketika menapaki hari akhir kepemimpinannya.
Mereka tidak hanya bertahan, tapi juga tumbuh lebih kuat melalui setiap tantangan.
Menanam labu memetik labu. Menanam kalbu menuai langit biru alias kebersambungan rindu.
“Matur nuwun Lurahé, telah menjadikan kami, rakyat ini, sumber kekuatanmu.”
Salam sehat.
…
Jlitheng

