Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Dari mata dan telinga turun ke hati”
(Ungkapan Hidup)
…
| Red-Joss.com | Sentuhan hati! Anda dan saya pun dapat tersentuh hatinya, ketika mendengarkan sebuah seruan penuh makna. “Ya, sungguh, dia pribadi yang luar biasa!” Atau pun saat kita mendengarkan selarik puisi, “Kulihat bola-bola matamu meratap dalam sendu.” Atau juga, kita terkagum-kagum pada indahnya sepotong remang senja di kaki langit kelam.
Ya, di saat-saat itu, kita mudah terhanyut dan tersentuh hatinya.
Apakah itu sebuah sentuhan hati (heart touch)? Suasana gejolak batin, rasa hati yang seolah ‘terangkat dan tergetar’ keras antara mengharu dan gembira saat mendengar atau melihat, serta merasakan sesuatu.
Getaran hati itu turut melibatkan indera: mata, telinga, dan sekeping hati.
Saya pun sempat terharu, saat teringat kembali ucapan penuh syukur dari mulut seorang pria paro baya di India, saat dia dimandikan oleh Mother Theresa (Santa Theresa). “Ibu, mengapa engkau rela memandikan aku, bertahun-tahun bangsaku, memandang aku bagai seekor binatang!”
Sentuhan pada sekeping hati yang tergetar dan terguncang itu, memang tidak selalu serta merta. Sebetulnya, proses itu dibangun dari waktu ke waktu lewat aneka pengalaman.
Sentuhan hati itu, juga hadir dan ada biasanya secara spontan. Ia terlahir, hadir, dan ada, karena merasa tersentuh. Tersentuh oleh apa? Ya, tersentuh oleh rasa belas kasih yang tulus.
Sejatinya, ladang hati manusia dapat menjadi pusat hidup seorang anak manusia.
Hati seorang anak manusia itu ternyata sungguh luas dan dalam, bahkan melampaui luas serta dalamnya samudra biru.
Kita, perlu terus belajar dari cara Yesus Sang Guru Agung. Bagaimana Dia bertutur dengan tulus dan jujur tentang makna biji gandum. Tentang pohon anggur, bunga bakung di ladang, dan burung pipit di udara.
Bagaimana misteri cara kita bertindak, agar dapat menyentuh hati seorang manusia?
Di dalam hidup kita juga sering terlontar ucapan yang terasa dingin serta monoton, tanpa roh. Ada juga ucapan yang terasa hambar tanpa makna. Mengapa? Karena kita mengucapkan secara terpaksa dan bukan mengalir dari kedalaman batin. Atau juga, sering terlontar pujian selangit, yang ternyata hanyalah sebentuk iri hati.
Yesus, Sang Guru Agung kita telah mengajarkan, agar tulus dan jujur di dalam bertutur serta bertindak.
Sesuatu yang lahir dari kedalaman hati, juga akan masuk ke kedalaman hati.
Sungguh, sekeping hati itu tidak dapat dibohongi!
…
Kediri, 4ย Septemberย 2023

