Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Omnis ars est imitatio naturae”
“Semua seni adalah tiruan alam”
(Lucius Annacus Seneca)
Seni yang Dipersekusi
Kisah pelaku seni dan kesenian yang dipersekusi bukan hanya kali ini. Sebelumnya ada grup musik Sukatani yang terintimidasi, novelis Pramoedya Ananta Toer yang tersandera, pencekalan penyair WS Rendra, bahkan Wiji Thukul hingga kini tak jelas nasibnya. Demikian tulis Yes Sugimo dalam Surat kepada Redaksi, berjudul, “Netralitas Seni” Kompas, Kamis, (15/1/2026).
“Langit dunia kesenian Indonesia gelap karena komika Pandji Pragiwaksono dengan Mens Rea-nya dianggap bermasalah.” Demikian sub judul dari tulisan Yes Sugimo.
“Capita Selecta” tentang Seni
Sesuai dengan judul tulisan, “Seni yang Dipersekusi,” saya ‘sepintas kilas’ akan menampilkan sebuah ‘topik pilihan’ tentang seni.
Sejatinya, bahwa ‘seni alias art’ itu adalah sebuah konsep yang sangat kompleks dan multifaset. Bahkan seni memiliki berbagai aliran. Seni itu diciptakan untuk suatu ‘keindahan dan nilai-nilai estetika,’ yang bertujuan membawa misi ‘menginspirasi dan mempengaruhi’ masyarakat.
Di sisi yang lain, seni itu memiliki bobot atau kekuatan (power), yang maha dasyat (“Artes vebriles”), artinya seni yang berpower dan memiliki nilai kejujuran, serta sikap keberanian dalam menyampaikan pesan kepada publik.
Bukankah ‘seni sejati’, itu adalah sebuah “ekspresi kreatif yang otentik dan jujur sifatnya,” yang bersumber dari dasar pengalaman serta emosi sang manusia?
Ars Longa, Vita Brevis
Bahkan filsuf Hippocrates yang hidup pada abad ke-5 SM pun beradagium, “Ars Longa, Vita Brevis” “Seni itu abadi, hidup itu singkat,” yang artinya, bahwa berseni itu membutuhkan waktu dan upaya kreatif yang panjang. Di sisi lain, realitasnya, bahwa hidup manusia itu memang sangat singkat. Artinya untuk menghasilkan sebuah karya seni (apa pun bentuknya), dibutuhkan sebuah dedikasi, kesabaran, dan kerja keras demi menciptakan sebuah karya seni yang abadi.
Seni untuk Manusia
(Ars pro Homine)
Sejatinya, bahwa manusia hidup dan terikat pada seni, artinya manusia tidak bisa hidup tanpa seni, karena seni memang berguna bagi manusia. “Artes vebriles, bahwa seni itu berfaedah, karena seni itu memang berguna untuk masyarakat (L’ art engage). Bahkan seni mampu membasuh jiwa dahaga manusia sebagai akibat dari beban hidup. Selain itu, seni pun memiliki daya pembersih jiwa nan letih yang disebut ‘katarsis’.
Kesaksian dari Tubagus Dedi Suwendi alias ‘Mi’ing’ Gamelar
Sang politikus senior sekaligus komedian Mi’ing lewat sebuah wawancara dengan TV swasta menyampaikan, “kesenian (komedi), menjadi tolok ukur tahapan kedewasaan masyarakat.”
Pertama, orang yang baru bisa menertawakan orang lain; kedua, orang bisa menertawakan kondisi sosial masyarakat; ketiga, orang yang bisa menertawakan diri sendiri, tidak marah, apabila tersinggung, sebaliknya justru instrospeksi. Itulah masyarakat beradab. Sebaliknya, apabila seni dan kesenian diberangus, ciri kemunduran peradaban sebuah bangsa. Demikian Yes Sugimo akhiri tulisannya.
Refleksi
“Veritatem Laborare Nimis Saepe Exstingui Numquam”
“Kebenaran sering Dikorbankan, tetapi Ia tidak pernah Mati”
(Livius)
Kediri, 16 Januari 2026

