“Ucapan yang terangkai dalam kata adalah doa.” -Rio, Scj
Omong sih gampang, tapi giliran disuruh berbuat itu gamang. Protes itu tidak perlu alasan, tapi berproses itu banyak alasan. Kritikan dan komentar itu gampang, tapi giliran disuruh memperbaiki malah lari. Kebanyakan dari kita juga begitu.
Hati-hatilah berbicara, karena setiap kata adalah doa. Bicara itu seni, seni berkata-kata yang melibatkan pikiran dan hati. Bila itu ada, maka bicara akan membangun bukan menjatuhkan. Bicara akan membawa berkat dan jadi berkat. Seni bicara itu tidak diukur dari seberapa ia pandai bicara, tapi bagaimana bicaranya berdaya guna, bukan menghina.
Filsuf Stoa bilang; kendalikan lidahmu, sebagaimana kamu mengendalikan pikiranmu. Benar lidah itu tidak bertulang, tapi setiap ucapan akan terekam dalam ingatan pendengar. Ucapan yang ke luar dari amarah pasti menghancurkan. Sementara ucapan yang lahir dari ketenangan dan kebijaksanaan menyembuhkan dan penuh kedamaian.
Itulah kenapa Tuhan menciptakan satu mulut dua telinga, agar kita lamban bicara cepat mendengarkan. Mari kita menjaga ucapan agar setiap rangkaian kata yang ke luar jadi berkat dan memberkati. Ucapkan dengan niat memberi makna, bukan sekadar ingin didengar. Bicaralah yang menenangkan bukan memanas-manasi, untuk menjernihkan bukan menghakimi. Bicaralah dengan logika hati, tidak asal bunyi, tapi kasih yang kel uar dari ketulusan hati. Bijaklah kapan harus bicara, kapan harus bertindak. Jadilah orang berkelas yang mampu menjaga tutur kata, bahkan saat emosinya diuji.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

