Seorang anak kecil diajak Ayahnya untuk belajar berjalan di jalan setapak. Ayahnya memegang tangan si kecil, menuntun pelan-pelan. Bila anak itu mengikuti langkah Ayahnya, senada, seiring, dan sejalan, mereka tiba di tujuan dengan aman, bahkan menikmati perjalanan. Tapi, bila anak itu menarik diri, menolak, atau melangkah ke arah lain, ia bisa tersandung atau tersesat. Ayahnya tetap mengasihi, tapi perjalanan menjadi sulit.
Begitu pula Tuhan: kasih-Nya selalu lebih dulu mengulurkan tangan. Pertanyaannya, apakah kita mau berjalan seiring dengan-Nya? Saat kita memilih taat, kita menemukan, bahwa kehendak Tuhan selalu membawa pada sukacita dan keselamatan. Tuhan menghadirkan dunia dan seluruh perjalanan hidup manusia dalam irama kasih yang tak pernah putus. Segala sesuatu disediakan-Nya dengan kelimpahan: dari nafas yang kita hirup setiap pagi hingga kekuatan batin yang menguatkan langkah kita dalam kesulitan.
Sesungguhnya kasih Tuhan itu bukan hanya pemberian, melainkan juga ajakan lembut agar manusia hidup dalam keharmonisan dengan-Nya. Perintah Tuhan bukan beban, melainkan tali pengikat yang menyatukan manusia dengan sumber hidupnya. Ketika Tuhan memerintah dengan kasih, manusia diajak untuk menanggapi dengan kepatuhan penuh syukur.
Yesus mengingatkan, bahwa tidak selalu terjadi keselarasan antara kehendak Tuhan dan respons manusia. Ia mengambil contoh yang sangat sederhana, tapi menyentuh: para pemain musik meniupkan lagu gembira, tapi orang-orang tidak menari; mereka memainkan lagu duka, tapi tidak ada yang meratap. Gambaran ini menunjukkan ketidaksesuaian batin manusia, yang seolah nada Tuhan mengalun, tapi hati manusia memilih diam. Tuhan berbicara, tapi manusia tidak mendengar; Tuhan mengajak, tapi manusia tidak melangkah. Ketika tidak ada keselarasan, rahmat yang sebenarnya hendak mengalir pun terhambat oleh penolakan atau kelambanan hati manusia.
Padahal, bila kehendak Tuhan dan kepatuhan manusia bertemu itu akan lahir sebuah harmoni yang menghadirkan sukacita sejati. Ketaatan itu bukan kehilangan kebebasan, melainkan penyesuaian diri dengan rancangan terbaik yang Tuhan siapkan. Ketika manusia berjalan seiring dan sejalan dengan firman-Nya, hidup jadi lebih ringan. Ada rasa aman dalam setiap langkah, sebab manusia tahu ia sedang bergerak ke arah yang benar. Di sanalah keselamatan itu bukan sekadar janji jauh, melainkan pengalaman sehari-hari yang memberikan damai.
“Ya, Tuhan, bantu dan mampukan kami agar selalu berusaha untuk sejalan dengan kehendak-Mu dan akhirnya mencapai keselamatan yang Engkau sudah tetapkan bagi kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

