“Tidak hanya seorang anak yang hilang, karena kenikmatan dunia. Tapi juga seorang suami bisa kehilangan cintanya dan seorang istri kehilangan kesetiaannya, karena perselingkuhan. Intinya setiap orang bisa dicap sebagai dia yang hilang, karena salah dan dosa yang diperbuatnya.”
Dari perumpamaan tentang anak yang hilang akhirnya kita temukan, bahwa yang jadi kekuatan dari kisah ini tidak terletak pada kesadaran dan pertobatan si bungsu, melainkan kemurahan dan kerahiman hati sang Bapa untuk menerima kembali si bungsu. Apa artinya si bungsu sadar, bertobat dan kembali, tapi sang Bapa menutup pintu hatinya?
Kita disadarkan, bahwa:
- 1) Setiap orang pernah jadi anak yang hilang, karena salah dan dosanya, tapi tidak semua bisa sadar dan bertobat;
- 2) Penyesalan atas kesalahan dan dosa tanpa sebuah tindakan nyata hanyalah kesia-siaan. Penyesalan dan tobat perlu dibuktikan dengan tindakan nyata yang jadi buah-buah darinya;
- 3) Sejauh mana pun Anda berlari dengan kenikmatan cintamu, tapi cinta Bapa akan mencari dan menemukanmu;
Akhirmya sadarlah, bahwa kebahagiaan hati Allah sebagai seorang Bapa yang baik tergantung pada sesal dan tobatmu. Bapa hanya menunggu saat engkau kembali ke dalam pelukan cinta kasih-Nya.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

