“Tuhan senantiasa memberi yang terbaik agar kita percaya dan mengimani-Nya.” -Mas Redjo
Saya telah berusaha dan berjuang secara maksimal, tapi hasilnya minim, bahkan serasa sia-sia. Hal itu tidak membuat saya patah semangat, berhenti, dan menyerah. Sebaliknya saya makin sujud dan menyembah-Nya untuk berserah pasrah.
Bagaimana tidak. Pertengahan tahun ini seperti anti klimak untuk dunia usaha. Ekonomi makin lesu, bahkan menurut saya terjadi krisis kembali.
Dari ngobrol dengan banyak relasi, mereka sepakat krisis pembeli saat ini lebih parah, dibandingkan saat covid.
Selalu refleksi diri adalah cara bijak untuk mencari jalan dan solusi yang terbaik. Saya harus mencari varian baru untuk mengatasi masa sulit ini, setelah mengunjungi dan mencari pelanggan (baru) serta pemasaran lewat online itu tidak menampakkan hasil. ‘Stagnan!’
“Tuhan, apalagi yang harus saya lakukan?”
Saya bertanya pada Tuhan tidak untuk menggugat, menyalahkan keadaan, tapi mohon untuk diberi solusi yang terbaik.
Di situasi berat dan sulit ini saya tidak mau melakukan pengurangan karyawan seperti yang dilakukan oleh banyak perusahaan untuk menekan biaya operasional yang membengkak agar perusahaan mampu bertahan dan melewati krisis dengan selamat.
Pengurangan karyawan itu cara termudah untuk menyelamatkan perusahaan. Tapi bagaimana dengan keluarga karyawan yang di-phk itu?
Jika boleh jujur, untuk bertahan dan sekadar ‘numpang’ makan itu berat. Tapi pengurangan karyawan juga bukan solusi bijak. Meski berat dan sulit, nilai kemanusiaan itu yang harus dijaga dan dipertahankan. Karena mereka setia menemani saya dalam suka duka berbisnis.
Ketika sedang hening berintimasi dengan Tuhan, hp saya menyalak. Anak bungsu saya mengabarkan, bahwa orang yang mengontrak ruko itu telah deal harganya untuk menyewa selama 2 tahun.
“Matur sembah nuwun, Gusti,” bibir saya bergetar, karena rasa syukur dan haru.
Semangat juang saya makin menyala!
Mas Redjo

