“Mata itu untuk melihat dengan jelas, bahwa ciptaan Allah itu luar biasa dan semua itu baik adanya. Jika kita melihat ciptaan-Nya itu ada yang buruk, berarti hal itu datang dari pikiran si jahat.”
…
Faktanya, tidak ada seorang pun yang mau dinilai atau dicap buruk. Setiap pribadi ingin jadi dan dicap baik, apa pun sikonnya!
Jika kita ingin menilai suatu hal, hendaknya bertanya lebih dulu pada nurani sendiri, karena kata hati itu jujur, dan hati adalah Tahta Allah.
Ketika kita melihat suatu keadaan atau kejadian buruk, sesungguhnya hal itu datang dari pikiran si jahat. Karena ciptaan Allah itu baik adanya.
Ketika kita jatuh terpeleset oleh kulit pisang. Yang salah itu bukan kulit pisang atau yang membuangnya, melainkan kita yang tidak melihat jalan, sembrono, dan tidak berhati-hati. Tujuannya untuk kita adalah selalu ‘eling lan waspada’ agar kita tidak celaka.
Begitu pula, ketika nilai ulangan jeblok, usaha gagal, ditipu orang, dan terjadi hal negatif lainnya. Intinya, agar kita tidak mudah menyalahkan orang atau keadaan. Tapi agar mawas diri untuk tidak bosan mengingatkan, memperbaiki, dan bertanggung jawab dengan hidup ini untuk menuju kepada hal-hal baik, dan makin baik lagi.
Ciptaan Allah itu baik adanya, bahkan pada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.
Karena sesungguhnya kita diajak untuk peduli, berempati, berbagi, dan bertanggung jawab atas hidup mereka. Tidak untuk menyalahkan keadaan atau situasi, apalagi untuk menghakimi sesama. Tapi kita dituntut agar rela berkorban untuk memperbaiki keadaan dan memanusiawikan sesama.
Hidup untuk saling mengasihi, karena Allah adalah kasih, dan ciptaan-Nya itu baik adanya.
…
Mas Redjo

