Doa kami adalah semprong hangatnya keluarga.
Salah satu kegiatan khas, ketika pulang ke desa adalah ‘dadèn geni’, menyalakan api untuk tungku, dan menjaganya agar tetap bernyala dan melahirkan panas. Alat untuk menjaga nyala api itu disebut ‘semprong’ (alat peniup dari bambu).
Itulah yang kami lakukan, ketika anak-anak sudah mandiri. Tugas orangtua seakan tuntas, tapi sesungguhnya tidak pernah. Kami ini jadi ‘semprong hidup lewat doa dan matiraga, agar tetap mengalir hangatnya kasih Allah.
Bapa Surgawi, jadilah gembala bagi anak-anakku, supaya tidak kekurangan sesuatu yang baik* (Mazmur 84: 11). Tariklah mereka untuk berbaring di padang rumput yang hijau; tuntun mereka ke air yang tenang. Peganglah akal dan jiwa mereka untuk selalu berjalan dengan lurus demi nama-Mu.
Salam sehat.
Jlitheng

