| Red-Joss.com | Saat ada perubahan di dalam diriku, ada dua reaksi: bangga dan bahagia. Sebab perubahan yang kualami menuju kepada tujuan yang tepat, yaitu kematangan hidup. Jika dilihat secara spesifik adalah kematangan secara spiritual. Perubahan itu benar-benar bisa dirasakan dan dikisahkan.
Perubahan cara berbicara.
Dulu, jika berbicara, sering tidak dipikirkan ke mana arahnya, efeknya dan manfaatnya. Sekarang, jika berbicara, kata-kata yang diucapkan itu terarah, berpengaruh, dan dirasakan manfaatnya.
Perubahan cara bersahabat.
Dulu, jika bersahabat itu mudah dipengaruhi oleh rasa suka dan tidak suka, memilih yang sudah akrab dan dikenal, dan kurang percaya diri. Sekarang, jika bersahabat, bisa dekat dan mudah akrab dengan siapa pun, serta makin percaya diri.
Perubahan cara mengatasi masalah.
Dulu, jika ada masalah, mudah sekali cemas, banyak menunda, dan kurang teliti. Sekarang, saat menghadapi masalah jadi tenang dan sabar untuk mengurai satu per satu masalah itu, sehingga terselesaikan dengan cepat.
Perubahan cara melihat kehidupan. Dulu melihat kehidupan amat terbatas, dinamika hidup monoton dan terfokus pada diri sendiri. Sekarang melihat kehidupan jadi luas, dinamis, berani ke luar dari zona aman, dan membuka diri untuk rendah hati.
Perubahan dalam memaknai panggilan hidup.
Dulu terus bergolak antara setia dan tidak setia, banyak godaan, dan merasakan beratnya tugas penggembalaan itu. Sekarang, sungguh bisa merasakan panggilan ini benar-benar ‘hadiah’ dari Tuhan untuk keluarga, masyarakat, Gereja dan dunia. Karena itu tidak lupa untuk mensyukurinya setiap hari.
Perubahan cara memaknai iman.
Dulu meyakini, bahwa beriman berarti mempunyai pengetahuan, lalu bisa menjelaskan dan tidak berhenti untuk belajar. Sekarang memaknai hidup beriman sebagai seorang musafir yang tahu ke mana menuju, bersama sahabat-sahabatnya bertumbuh bersama, dan bisa belajar dari siapa pun dan di mana pun.
Perubahan demi perubahan itu terus aku alami. Yang pasti, di balik semua perubahan itu, ada yang tidak berubah, yaitu Tuhan yang kumiliki. Dia yang setia menyertai dan mengasihiku sampai akhir zaman. Itu semua kurasakan setelah aku merasakan semangat kebangkitan Yesus Kristus.
Bagaimana denganmu? Apa yang berubah? Apa yang harus diubah? Lalu apa yang tidak pernah berubah?
Semangat berefleksi diri untuk pembaharuan diri agar hidup kita berkenan bagi Tuhan.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

