“Hidup yang tidak direfleksikan, tak pantas untuk dihidupi.” – Socrates.
…
| Red-Joss.com | Manusia dengan segala aktivitasnya yang serba padat dan cepat, membuatnya lupa pada waktu, lupa pada seni menikmati dan memaknai hidup. Seolah segalanya itu diburu-buru dan terbebani, sehingga merasa tak benar-benar hidup.
Pandemi dan krisis mendorong kita untuk melihat jernih kehidupan. Apakah ini momen yang tepat untuk kita sejenak behenti menikmati, memaknai hidup yang penuh tensi tinggi, cepat, dinamis, dan teknologi canggih? Apakah ini saatnya kita sejenak memperlambat rutinitas, menikmati hidup, dan memaknai hidup?
‘Slow living’ mungkin bisa menjadi pilihan tepat untuk menjadikan hidup lebih hidup. Hidup melambat lahir dari filosifi di mana kita manusia sejenak ke luar dari rutinitas sehari-hari yang serba penat, tensi tinggi, dan serba bergantung dengan teknologi tinggi. Untuk menikmati alam, menikmati hidup, merefleksikan, mensyukuri, dan menghargai apa pun yang ada di sekitar kita.
Sesungguhnya, hidup yang tidak direfleksikan itu tak layak dihidupi. Sejenak menepi untuk meningkatkan meditasi aktif. Sebuah kesempatan untuk lebih dekat dengan alam, diri, hidup, dan Tuhan. Selama ini kita berpikir cepat itu yang baik, sibuk beraktivitas itu baik, dan banyak hal baik lainnya, padahal tidak sepenuhnya benar. Hidup melambat itu tidak berarti malas, bukan pula tidak mau bekerja keras, melainkan cara untuk meningkatkan kualitas diri. Kita tahu takaran cukup untuk mensyukuri hidup, menikmati, dan memaknai hidup yang berkualitas dan lebih produktif.
Tuhan mempunyai rencana terbaik untuk kita. IA tahu artinya mencipta: manusia, bumi, alam, flora dan fauna. Tanpa kita sadari alam semesta berperan besar untuk hidup kita, yakni tanah, air, udara, matahari, tumbuh-tumbuhan, mikroba, hewan, dan sebagainya.
Hidup melambat itu tidak harus di desa, di kota besar juga bisa. Semua bergantung pola pikir kita. Coba lihat sekarang, karena berkat pandemi, semula orang yang tidak menyuka bunga, jadi gila tanaman dan bunga. Dari biasa makanan serba beli, lalu berkreasi memasak sendiri. Dari konsumsi beli sayuran, di halaman rumah ditanami sayuran dan bunga nan asri. Itulah bentuk sederhana meditasi aktif sambil beraktivitas dan berkoneksi dengan Tuhan melalui alam, hewan, dan tumbuhan. Stres, tekanan, dan kepenatan tubuh hilang, dan sehat pun didapatkan. Cepat boleh tapi jangan sampai penat. Sibuk dan bertumpuk kerjaan itu boleh, tapi tidak lupa sejenak menikmati dan memaknai hidup. Serba canggih boleh, tapi yang tradisional dan spiritual jangan ditinggalkan.
Tetap semangat dan jalani hidup sehat.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

