Melihat semangat pengorbanan itu tidak didasari ego, tapi kerendahan hati agar kita memahami ketulusan kasih sejati.” -Mas Redjo
…
Tidak mudah, tapi juga tidak sulit, asalkan kita mau membuka hati dan merasakan, bahwa kita amat diperhatikan, dicintai, dan dikasihi.
Faktanya kita biasa melihat dengan kacamata sendiri. Kita senang, jika dituruti, dimengerti, dan dipahami. Karena banyak menuntut, kita sulit merasakan kasih dan pengorbanan orang lain.
Kini saatnya tinggalkan keegoan itu. Kita melihat dengan kejernihan hati untuk mengerti dan memahami, sekaligus untuk mendulukan serta mengutamakan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan sendiri.
Coba amati dan resapi, perhatian dan kasih Ibu pada anak-anaknya. Ibu yang mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan kita. Pengorbanan Ibu itu luar biasa, dan kasihnya tak harap kembali; tanpa pamrih.
Begitu pula Ayah yang bekerja dan berjuang untuk memberikan yang terbaik pada anak-anaknya. Ayah tampak tegar, sabar, dan tenang. Karena ia tidak mau menampakkan gejolak hatinya di hadapan kita.
Adakah kita merasakan ketulusan hati orangtua yang mengasihi kita dan tanpa pamrih itu?
Ketika sulit memahami perhatian dan kasih dari orangtua, dipastikan kita juga sulit memahami orang lain.
Saatnya kita harus berani mengakui dengan jujur sejujurnya. Sejatinya, ketika sulit memahami orang lain, kita belum rendah hati. Karena kita ingin jadi pusat perhatian, dan sombong.
Sebaliknya, ketika berani ke luar dari ego sendiri untuk peka, peduli, dan mengutamakan kepentingan orang lain serta memahaminya, kita merasakan anugerah Tuhan yang luar biasa.
Dengan mengendalikan diri sendiri, kita mengedepankan kerendahan hati untuk mengasihi sesama.
Dengan meneladani semangat pengorbanan Tuhan Yesus yang di salib untuk menebus dosa dan menyelamatkan dunia, kita menimba kekuatan dari-Nya untuk jadi pribadi yang rendah hati.
Semangat pengorbanan Tuhan Yesus adalah semangat mengasihi. Tanpa sekat dan tiada batas.
Hendaknya kita saling mengasihi, karena Tuhan adalah kasih!
…
Mas Redjo

