| Red-Joss.com | Zaman terus berubah. Berubah pula cara menjalani hidup kekhatolikannya. Ada yang lurus-lurus saja, tapi tidak sedikit yang berbelok arah. Semoga masih dapat bertemu di ujung sana.
Teringat satu cerita tentang seorang anak muda. Nampak santun, rapi, baju bagus, celana bagus, bersepatu mengkilap, dihentikan polisi, karena menerobos lampu merah.
Ketika polisi menghentikan dan bertanya, “Mengapa Anda menerobos lampu merah? Anda tahu apa artinya merah?” Dengan entengnya si pengendara sepeda motor menjawab, “Tahu Pak Polisi. Merah artinya berani.” Anteng dan tetap senyum.
Gemes, gregetan. Membuat kisruh. Tapi yang kita lihat itu memang banyak kejadian serupa dalam kehidupan sehari-hari. Di beberapa kota di Indonesia, mereka yang ‘berani’ naik sepeda motor tanpa menggunakan helm pengaman sambil membonceng tiga dan menerobos lampu merah pula, justru dianggap orang atau menganggap diri sendiri hebat atau jago.
Mungkinkah cara pandang seperti itu merasuki cara hidup beriman sebagian anak muda kita? Ada kekisruhan cara pandang, karena ingin nampak hebat, jago? Menerobos antrian komuni, padahal tidak boleh. Dengan tanpa ragu pindah agama, nikah di luar gereja, tidak pindah, tapi, juga tidak pernah tampak batang hidungnya.
Ketika kita menghentikan dan bertanya: “mengapa kau terobos rambu-rambu imanmu, nak? Kamu tahu artinya rambu-rambu imanmu?” Jawabnya: “tahu pak, artinya jangan ikut campur. Itu urusanku dan masa depanku sendiri.
Jleb. Lantas…? Apa yang salah? Apa yang dapat kita lakukan untuk generasi muda kita itu?
‘Sarwa iwuh lan pakewuh’, serba salah; mau diam saja nanti dipermasalahkan, bahkan disalahkan, mau bertindak sesuatu juga dapat menjadikannya lebih berdampak. Itulah kondisi ewuh lan pakewuh, dan pada umumnya kondisi itu terjadi sebagai akibat dari suasana kisruh, seperti malam gelap tanpa pelita bernyala. Gelap gulita, ‘kisruh mergo ra weruh’. Kisruh, karena tidak melihat. ‘Wis mbuh, sakarepmu.’ Tentu bukan itu jawaban yang kita tunggu. Baiknya memang kita duduk bersama. Cari jalan terbaik, mungkin sekadar memberi nyala. Dan… mereka memang harus bertanggungjawab pada hidupnya.
Salam sehat dan tetap berani berbagi cahaya.
…
Jlitheng

