Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Selembar foto dirimu adalah pantulan dirimu apa adanya.”
(Anonim)
…
| Red-Joss.com | Setiap orang, biasanya cermat menyimpan foto dirinya. Apakah itu foto pas atau pun foto-foto lainnya.
Selembar foto diri, tentu sangat personal. Sangat spesial. Ada orang yang menempatkan fotonya di dalam dompet atau di dalam album, atau pun juga dipigurakan dan terpampang di kamar tidur atau pun di ruang tamu keluarga.
Coba pandang, amati, dan kenang kembali foto diri itu.
โSiapakah diriku ini? Siapakah aku ini, di antara anggota keluargaku serta tetanggaku? Apa kesan serta tanggapan mereka tentang diriku?โ
Sesungguhnya, tidak banyak yang kita ketahui, apa kata mereka tentang diri kita ini.
Memandang kembali sang diri, sang aku, jati diri ini, tentu membutuhkan sebuah keberanian serta kejujuran.
Inilah selembar foto diri. Biasanya, saat kita memandang kembali selembar foto diri, kita akan mendapatkan ‘jawaban tentang diriโ.
Diri kita hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Dalam konteks ini, kita tidak sedang mendacing diri. Kita pun tidak sedang ber-oto kritik terhadap diri. Kita tidak sekadar merasa lebih tambun atau pun kian langsing. Juga, tidak sekadar merasa kulitku ko’ kian menghitam atau justru kian putih. Tidak!
Jika hal-hal itu yang dipersoalkan, berarti kita telah gagal paham.
Memandang diri lewat selembar foto diri adalah ‘proses mengintrospeksi diri.’ Siapakah kita ini, di tengah planet bumi? Bagaimanakah kita ini,
di tengah kaum keluarga? Mengapa dan bagaimanakah eksistensi kita, di tempat kerja dan di dalam masyarakat?
Memandang kembali selembar foto diri, dibutuhkan sebuah kejujuran. Kesadaran akan kerendahan hati dan ketulusan untuk berani akui kesalahan maupun kelebihan kita.
Wahai sang aku, katakan kepadaku dan kepada semesta raya ini, “Who am I?” Siapakah aku ini?
…
Kediri,ย 26ย Juniย 2023

