Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Matahariku dikaulah lentera keberanan, api kebijaksanaan, dan simbol pencerahan.”
(Filosofi Kehidupan)
Tentang Matahari
Tentang ‘Matahari’, bagi dunia dan berbagai suku bangsa pun telah memandangnya sebagai simbol dari “kehadiran Tuhan, Sang Pencipta Semesta.” Maka, betapa khas dan istimewanya kehadiran dan keberadaan planet Matahari bagi kehidupan serta keberadaan umat manusia sejagad.
Secara kefilsafatan, sekeping Matahari itu dapat melambangkan suatu ‘kebenaran, kebijaksanaan, dan pencerahan. Dalam konteks yang lebih luas, ia dapat diibaratkan sebagai sumber cahaya yang menerangi kegelapan, juga melambangkan pengetahuan dan kebijaksanaan yang sanggup menghalau kebodohan.
Dalam filsafat bangsa Yunani, “Matahari bahkan dikaitkan dengan konsep logos alias akal budi” sebagai prinsip dasar yang mengatur dan bahkan turut mengendalikan semesta raya ini. Dasyat bukan?
Sedangkan di dunia Timur, sang Matahari itu disimbolkan sebagai ‘pencerahan spiritual’ sang pembawa cahaya ke dalam dunia, demi melenyapkan kebodohan dalam diri manusia.
Maka, dapat disimpulkan, bahwa sang Matahari itu sungguh bermakna dalam sikap dan pandangan hidup umat manusia.
Tulisan refleksi dan filosofis ini bertujuan sebagai sebentuk ‘pencerahan’ bagi umat manusia di saat memasuki hari dan tahun baru (1/1/2026) ini. Juga sebagai sebuah kado untuk membuka wawasan nurani kita dalam menghadapi tahun baru ini.
Matahari Kehidupan
Siapakah sang Matahari kehidupan bagi Anda dan juga saya? Sering, orang memaknakan, bahwa seorang guru adalah Matahari baginya. Orangtua pun sebagai Matahari baginya. Atau para pemimpin, juga dipandang sebagai Matahari bagi mereka.
Aneka pandangan ini, tentu didasarkan pada aspek ‘kemanfaatan atau fungsi penting’ Matahari bagi manusia di dalam hidupnya.
Seorang murid, atau seorang anak, dan sekelompok warga masyarakat telah menyadari akan peran penting seorang guru, atau orangtua, serta pemimpin yang didasarkan pada aspek jasa atau pengorbanan mereka dalam mendidik, membimbing dan menuntun, serta mengayomi mereka di dalam ruang hidup ini.
Dalam konteks ini, semua jasa baik yang telah dipersembahkan itu dapat disejajarkan dengan pentingnya peran sinar Matahari bagi kehidupan semua makhluk.
Ucapan “Selamat datang Matahari,” sepintas kilas pun dapat bermakna, “selamat datang sang pemberi kehidupan, yang telah menerangi, membimbing, dan menuntun langkah hidup manusia.”
Dungguh riil, bahwa secara rasional, kita sungguh mengakui jasa besar dari para guru, para orangtua, juga para pemimpin kita. Dalam konteks ini, peran penting mereka itu bagaikan Matahari dalam kehidupan semua makhluk di atas bumi ini.
Refleksi
“Siapakah Sang Mentari Sejati itu?”
Dialah Sang Pemberi kehidupan ini!
Kediri, 2 Januari 2026

