| Red-Joss.com | “Again he said, “To what shall I compare the Kingdom of God? It is like yeast that a woman took and mixed in with three measures of wheat flour until the whole batch of dough was leavened” (Lk 13:20-21). Kesuksesan apa yang yang ingin kita dapatkan? Mudah mempengaruhi seseorang untuk melakukan kebaikan atau kejahatan?
Mempengaruhi orang untuk berbuat baik atau jahat itu sama-sama membutuhkan keahlian, sebab manusia itu pada dasarnya mudah ‘dipengaruhi’. Ada yang berkomitmen dengan bulat, bahwa dia berjanji untuk berbuat baik, eee, tidak lama kemudian dia melakukan perbuatan jahat, bahkan sangat jahat di mata manusia lainnya.
Sebaliknya, selama ini dia dikenal sebagai orang yang jahat, tapi pada saat tertentu, dia tersentuh dengan sebuah peristiwa, seperti suatu mukjizat, pada saat itu juga hidupnya berubah. Dia jadi baik sekali. Selanjutnya, dia selalu berbuat baik.
Itulah pergumulan manusia di tengah pengaruh yang baik dan yang jahat. Di tengah pengaruh seperti itu, kita hendak berbuat apa? Mempengaruhi seseorang untuk berbuat baik atau berbuat jahat?
Alangkah bijak, kita memilih untuk memberikan pengaruh yang baik. Kita menjadi pribadi yang mampu melebur dan menyatu untuk menggerakkan, memberi rasa dan menginspirasi sesama. Kita ibarat ragi untuk membuat roti itu.
Lihat, dengan adonan yang kurang lebih sama, jika sudah jadi roti dan dipajang, menggoda untuk dibeli. Ketika dinikmati, roti itu rasanya lezat dan mantab.
Di mana saja, murid-murid Yesus harus menjadi penggerak kebaikan, memberi rasa kasih dalam kebaikan-kebaikan yang dilakukan, dan terus menginspirasi semakin banyak orang untuk berbuat baik. Lewat hidup kita, panggilan kemuridan itu semakin bisa diandalkan, unggul dan bermutu.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

