Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Baginya seolah tak ada jalan atau cara lain, selain dengan mengeluh”
(Didaktika Hidup Sadar)
Manusia, siapa pun dia, biasanya memiliki sebuah keunikan yang jadi kekhasan bagi dirinya. Sehingga bagi banyak orang lain, hal itu jadi sebuah ciri sebagai kekhasannya.
Aneka Keunikan Tipe Manusia
Anda tentu kenal sosok si angkuh yang tegar tengkuknya. Ada si pemarah yang suka meledak-ledak di setiap saat, kapan dan di mana saja. Ada si pendendam yang sukar memaafkan, dan bahkan mungkin saja hingga ke liang lahat. Ada si periang yang tak kenal duka derita. Ada si congkak yang lagaknya bagaikan seekor burung merak. Ada juga si pemalu yang selalu saja tidak nyaman, jika tampil di hadapan publik. Juga masih ada lagi, ialah si pengeluh.
Tentang Pribadi Pengeluh
Siapakah pribadi pengeluh bagi Anda dan saya, juga bagi kita? Dia itu sungguh unik dan di mata siapa pun. Banyak orang akan menjauh dari dia, karena berbagai alasan. Tapi, dengan kekhasannya, ia tetap tampil dan senantiasa hadir dan berada di antara kita.
Siapakah itu si Pengeluh
Ia memang selalu mengeluh. Karena apa dan kepada siapa pun. Sekali lagi, ia pasti hadir lewat kekhasannya ialah dengan mengeluh.
Ia mengeluh, karena diberi tugas baru atau karena cuaca panas pun juga dingin. Ia mengeluh, karena namanya salah disebut atau karena terlambat disapa. Ia juga mengeluh, karena doanya belum dijawab Tuhan. Singkatnya, segala sesuatu akan diakhiri dengan sebuah keluhan panjang.
Tulisan Tangan Ayah di Dinding
Saking jengkelnya, maka Ayahnya menuliskan seuntai kalimat di dinding kamar si Sulung. Mengapa demikian? Alasannya, karena setiap saat si Sulung itu selalu mengeluh.
Ia mengeluh, karena hawa terasa panas atau dingin, dibangunkan dari tidur. Juga karena diberi tugas untuk membersihkan rumah. Maka, pada suatu kesempatan, Ayahnya mereaksinya dengan cara unik, yakni menuliskan seuntai kalimat.
Sepulang Sulung dari sekolah, dilihatnya ada seuntai kalimat terpampang transparan di dinding kamar tidurnya. Betapa terkejutnya ia di saat melihat dan membaca untaian kalimat menohok itu.
“Nak, Ayah sudah capai mendengar keluhanmu, maka relakah engkau menggantinya dengan sebuah pujian?”
Di antara rasa takut, malu, dan juga terperanjat, maka ia segera mengatupkan kedua tangannya dan menutupi wajah sesalnya. Ia terisak-isak dalam rasa sesal yang tidak disadarinya selama ini.
Semoga Tertulis juga di Dinding Sadar Kita
Suasana tidak nyaman yang sudah sangat lama dialami, sering kali dapat meninggalkan duka dan luka di dada batin seseorang yang peduli pada suatu keadaan. Hal itu entah menyangkut sifat atau perilaku seseorang, suasana atau keadaan, serta apa saja yang terasa sangat mengganggu kenyamanan hidup bersama.
Semoga saja, untaian kalimat tulisan tangan Ayah ini, yang kini terpampang sunyi di dinding kamar putranya, juga terukir di dinding sadar kita, selaku putra-putri dari Sang Kehidupan.
Seorang Ayah yang arifin, tentu memiliki aneka cara yang baik dan manusiawi dalam proses pendidikan bagi anaknya. Dalam konteks ini, ia menggunakan pendekatan persuasif, sehingga dapat membangunkan sikap sadar dan empati di dalam hati anak.
Refleksi
- Dalam konteks rohani dan spiritual, maka Anda dan saya adalah si Sulung yang doyan mengeluh dan menggerutu itu.
- Di sisi yang lain, Ayah itu adalah simbol Bapak Yang Maha Kuasa, yang pada setiap saat merindukan kembalinya anak hilang.
- Ternyata, betapa agungnya kasih Sang Bapak yang dengan tulus mendandani kembali anak hilang itu dengan seutas jubah dan selingkar cincin di jemari nan manis sebagai simbol dari pengampunan dan kasih sayang.
Deus Caritas est!
…
Kediri, 9 November 2025

